
TRANSINDONESIA.CO – Kalimat, kata-kata, sikap perilaku yg menimbulkan rasa bersalah dan yang benar menjadi salah, bahkan menjadikan ketakutan. Niat baik yang disalah tafsirkan bisa menjadi keliru.
Ada kecenderungan yang benar jadi salah, yang salah jadi benar. Ketakutan rasa tertekan, memojokan, melecehkan yang menyebabkan korban mau tidak mau mengakui kesalahannya. Ada ketakutan atau sanksi sosial
Berbagai bentuk kekerasan simbolik juga bisa dilihat dari kesepakatan-kesepakatan yang dibuat dan dilanggar/diabaikan begitu saja dengan berbagai alasan, lupa, lelah, sibuk, atau sebgai pembalasan atas sikap yang tidak disukainya.
Tatkala dipertanyakan akan menjadikanya sesuatu yang salah menjadi benar dan sering juga menuding, menganggap, menghakimi dan menyalah-nyalahkan baik langsung atau tidak langsung.
Kekerasan simbolik bisa saja takut ngomong salah, takut terbuka, takut membuat marah. Ini merupakan suatu sikap mempermainkan dan menganggap apa yang dilakukan sebagai hal biasa saja walau menyebabkan sakit hati atau ketakutan maupun rasa bersalah.
Kekerasan simbolik menjadikan seseorang terkekang. Kekerasan simbolik merupakan pintu gerbang masuk kekerasan psikologis dan fisik.
Dalam kehidupan berkeluarga, kesepakatan yang sebenarnya penekanan dan pengekangan, sebagai contoh, tatkala anak sakit, suami mengatakan “mam.. kamu harus tinggal dirumah anak kita sakit. Si istri menjawab: “Kan kita sama-sama kerja”, Lalu suami menyatakan, “Kamu ini sudah kuiijinkan bekerja tahu dirilah”, kemudian istri mengatakan, “Kan gajinya banyakan saya”, suami tanpa berkata ‘a b c’ langsung menampar istrinya.
Korban kekerasan simbolik akan terus disalahkan dan dianggap membuat kesalahan. Ini suatu sikap menang-menangan dan aneh, namun tidak dirasakan sebagai keanehan bahkan merasa benar.(CDL-Jkt141015)
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana







