
TRANSINDONESIA.CO– Penthul kenyut julukan bagi pemain badut-badut tradisional yang berperilaku aneh, koplak tidak rasional bahkan njelehi dan pingin ngamplengi jika kita melihatnya.
Konyol, nganyelake tetapi juga membuat lucu dan tertawa bahkan bisa menertawakan diri kita sendiri.
Penthul kenyut menjadi idola dan kesukaan orang-orang kecil, keterwakilan kaum marginal yang sudah penat dalam menghadapi hidupnya. Penthul kenyut pelipur lara, penghilang duka bahkan menjadi sasaran makian dan olokan serta obat kecewa.
Penthul kenyut dapat menjadi model untuk mencari solusi dan jembatan sosial bagi masyarakat kebanyakan. Model-model bolo dupak atau abdi kinasih dan punokawanan yang dapat memunculkan goro-goro.
Goro-goro dapat dipahami sebagai bentuk protes dalam lucu-lucuan, bahkan sampai konflik yang dapat meluas ke segala sektor maupun segala sisi. Model penthul kenyut tidak hanya sendirian, ia punya banyak teman sejawatnya, seperti togog dan mbilung, cangik dan limbuk, semar dan anak-anaknya (gareng, petruk dan bagong), sabdo palon dan noyo genggong, penthul dan kemben, cakil dan bambangan dan banyak lagi.
Modelmodel punokawanan ini sebagai bentuk solusi penampung uneg-uneg dan segala kekecewaan.
Gaya guyonan, gaya koplak-koplakan akan membuat hati dingin, dan setidaknya mengerem emosi dan potensi kekerasan yang mungkin terjadi.
Guyon maton, guyon parikeno, model-model dagelan yang menggelitik, mengkritisi bahkan mengolok yang tidak mungkin disampaikan secara langsung, entah karena barier birokrasi, takut, atau berbagai hal, dengan guyonan-guyonan selain menyalurkan uneg-uneg dan grundelan juga akan memberi penghiburan. .(CDL-Jkt160915)
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana







