
TRANSINDONESIA.CO – Sepeda motor di jalan raya bagai air bah saja mengalir begitu deras ke segala penjuru. Setiap ada kesempatan, setiap ada peluang pengendraanya nekat memasukinya.
Sepeda motor telah menjadi pilihan warga masyarakat yang tidak lagi mau berharap dengan angkutan umum, karena tidak aman, tidak nyaman dan tidak tepat waktu. Selain itu, infrastruktur bagi pejalan kaki yang tidak lagi mendukung bahkan cenderung membahayakan.
Slogan-slogan safety first sebatas kampanye, canangan program keselamatan sebatas konsep dan kalangan pejabat yang terkait serta milik kaum terpelajar di bidang transportasi, selebihnya kita dapat melihat dijalan raya.
Sistem transportasi memang tidak bisa berdiri sendiri saling terkait dengan system-sistem lainya, seperti sistem edukasi, sistem regident pemengudi dan kendaraan bermotor, sistem pembangunan infrastruktur, sistem angkutan umum, sistem kesehatan masyarakat dans ebagainya.
Kompleksnya masalah transportasi mengakibatkan saling menunggu atau saling tuding kalau ada masalah.
Apa yang terjadi dalam pembangunan sistem-sistem yang semestinya sinergi menjadi parsial, manual, konvensional, reaktif dan temporary.
Kita sering melihat penanganan-penanganan masalah yang sebatas seremonial, supervisial yang diselubungi kepura-puraan (selesai upacara, selesai kunjungan selesai pulalah program itu).
Kita bisa melihat dari korban kecelakaan yang semakin hari semakin meningkat, terutama dari pengendara sepeda motor.
Adakah rasa tanggungjawab atau rasa bersalah? setidaknya secara moral bagi para pejabat yang terkait?
Kita bisa melihat dari kiprahnya untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu, siap di masa kini dan menyiapkan masa depan yang lebih baik. .(CDL-Jkt140915)
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana







