
TRANSINDONESIA.CO – Apel sering dijadikan analogi kisah dongeng, model-model lukisan sebagai buah idaman hingga buah yang terlarang. Buah penyebab kematian dalam ceritera atau dongeng putri salju. Ada juga lagu yang terkenal di tahun 90 an “Tragedi Buah Apel”.
Apel menjadi simbol atau ikon kemewahan, kesempurnaan sekaligus petaka. Sulit memang untuk mengatakan apel yang busuk dikatakan apel segar. Dari kulit dan bentuk serta rasanya semua akan nampak mana yang busuk dan mana yang segar.
Biarpun seribu orang mengatakan apel busuk sebagai apel segar, tatkala dibantah satu orang yang dipercaya karena integritas, komitmen, kompetensi dan prestasinya dengan jujur mengatakan kondisi sesungguhnya maka akan lebih dipercaya dan mampu merontokan 1.000 pendapat lainya yang keliru atau karena terpaksa juga karena ada sesuatu.
Tatkala dalam pilih memilih pemimpin, maka tidak boleh lagi main rekayasa atau pemaksaan seperti analogi apel yang busuk dikatakan segar. Suatu penilaian dan pernyataan yang tidak sesuai dengan fakta atau karena pesanan dan titipan, maka akan berdampak pada integritas, komitmen, kompetensi dan prestasi yang buruk bagi institusi, rakyat, bangsa dan negara.
Para kaum karbitan akan menjadi benalu yang berkelas pecundang, terhadap masalah sosial kemanusiaan dan lainnya. Jangankan peduli, peka saja tidak.
Apel segar tanpa dipromosikan akan dipilih karena ada harapan bagi yang menikmatinya, membawa kesegaran dan kesehatan.
Tatkala apel busuk dikatakan segar akan menyesatkan dan bisa jadi malah mematikan. Integritas, komitmen, kompetensi, prestasi dan capacity building sebagai standar bagi calon pimpinan dan dinilai setelah menjadi pemimpin.
Dadi Ratu Kudu Ono Lelabuhane, ora ono lelabuhane ora ono gunane. Apa manfaat bagi kemaslahatan banyak orang saat memimpin inipun perlu diprediksi, dipertanyakan dan dipertangggungjawbkan. .(CDL-220815)
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana







