
TRANSINDONESIA.CO – Diam degan sikap atau pilihan untuk tidak melakukan sesuatu, dahulu diam dikatakan ‘emas’.
Benarkah diam itu emas? Tentu dilihat dari konteksnya, tatkala diam pada posisi yang berkaitan dengan situasi yang kontra produktif atau tugas-tugas intelejen, atau pada tugas pengamatan, diam memang suatu langkah yang bijak.
Namun, tatkala dalam konteks public relation, kemitraan, trust building tentu diam menjadi tidak tepat. Bericarapun juga pada konteksnya tatkala banyak bicara tidak ada yang dikerjakan maka sama dengan nato (no action talking only). Bisa juga berbicara berdebat tanpa ujung pangkal, menggosip dan menjadikan sesuatu semakin keruhpun akan menjad kontra produktif.
Diam maupun berbicara memungkinkan menjadi ‘emas’ dan bisa juga menjadi kontra produktif. Penyampaian sesuatu akan menjadi kontra produktif tatkala dibumbui dengan berbagai kepentingan yang subyektif, apalagi dengan kebencian/hate.
Provokasi/hate speech dalam pembicaraan akan menimbulkan labeling dan kebencian. Kekuatan kata-kata mampu membangun sekaligus menghancurkan.
Hembusan kebencian akan menggerus kepercayaan dan sikap toleran antar sesama manusia. Dampak dari hate speech akan merusak sendi-sendi kehidupan sosial dan mengakibatkan kontra produktif serta menjadikan konflik yang tidak lagi menghargai manusia dan peradabannya.(CDL-Jkt080715)
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana







