
TRANSINDONESIA.CO – Isu kabar kabur, suara burung yang membahana menebar berita keberbagai penjuru. Apa yang dikicaukan bukanlah kebenaran atau sesuatu yang mengedukasi, tak jarang menyesatkan dan memprovokasi.
Tatkala berbunyi pada frekewensi sama dan terus saja membahana maka, semua akan menjadi sebuah gema keyakinan yang terus dipercayai sebagai sebuah pembenaran yang dianggap kebenaran.
Gosip semakin disgosok semakin sip, isu-isu tidak penting namun dikemas sedemikian sehingga seolah-olah penting.
Isu dan gossip-gosip menjadi opini, yang tak jarang disusupi hembusan-hembusan kebencian yang terus memancing konflik dengan menggerus kesadaran.
Nalar atau logika bisa tumpul terhanyut isu yang tidak rasional hanya demi sesuatu yang dianggapnya sebagai kesucian dan kebenaran.
Siapa menabur akan menuai. Para perekayasapun akan menuai badainya ia akan kena batu karena yang ia lempar sendiri. Perekayasa yang tumbang karena rekayasa akan terus membuat rekayasa baru dan terus menerus merambah ke semua lini menyebar virus kebencian.
Kebencian demi kebencian akan mengakar dan munculah dendam rasa ingin membalas. Bagai sang harimau merunduk mangsa kapan ada kesempatan tiba untuk menerkam.
Isu atau gosip bisa menghibur namun, ini juga bagian dari diaspora kebencian dan akar konflik serta kerapuhan ditengah atau penghancuran dari dalam sendiri.
Tatkala sudah saling tidak percaya jadilah lahan konflik baru dengan memunculkan martir-martir rekayasa dan terus dihembuskan kebencian-kebencian melalui kicauan-kicauan deng nada dan frekwensi sama untuk jangka yang cukup lama. (CDL-Jkt100615)
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana







