
TRANSINDONESIA.CO – Humanisme dapat dipahami sebagai sesuatu yang manusiawi dan memanusiakan manusia. Menempatkan manusia sesuai harkat dan martabatnya. Upaya memanusiakan manusia tidak semua kelompok manusia terutama yang sudah mendiami di zona aman, mereka biasanya malah menentang terlebih dahulu.
Karena takut kehilngan preivilage dan berbagai sumber daya yang dikuasainya. mereka biasanya akan berkoar-koar dan berteriak-teriak menggeliat dan membully diberbagai media atau lewat kekuatan massa yang dimilikinya.
Memanusiakan manusia bisa saja dijadikan alat para mafia birokrasi untuk menjatuhkan atau memfitnahnya, Karena mereka takut lahan keberuntungannya diduduki, diganti atau beralih dari tangannya.
Mafia-mafia birokrasi akan membentuk kelompok-kelompok untuk terus menggeliat dan melakukan aksi manipulasi dan menutupi boroknya dengan topeng-topeng kemanusiaan.
Humanisme para preman ini tidak tulus dan hanya tambal koreng saja, bentuknya bervariasi dari sedekah sampai kegiatan narsis dan upaya pengkultusan.
Mafia birokrasi tetap mafia, setinggi apapun burung terbang ia akan kembali ke sarangnya. Sebaik apapun sang mafia, tetap jahat juga. Karena penguasaan sumber dayalah tujuanya, uang dan duniawi sarananya.
Segala pendekatanya tak pernah dengan hati. Yang diotak hingga dengkulnya hanya hal-hal hedonisme. Mereka akan membenci humanisme dan mati-matian mempertentangkan serta menggagalkannya. Disitulah humanisme di birokrasi yang sarat mafia akan menjadi pertentangan dan perjuangan.(CDL-Jkt050615)
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana







