
TRANSINDONESIA.CO – Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam pemerintahan presiden Joko Widodo didorong untuk menjadi motor percepatan pembangunan nasional.
Itu dilakukan mengingat misi Presiden Jokowi yaitu akan membangun ekonomi nasional melalui daerah, sementara perusahaan swasta masih enggan berinvestasi di daearah.
Namun dalam kenyataannya dari kinerja BUMN sepanjang tahun 2014, masih ada setidaknya 22 perusahaan BUMN yang masih merugi yang sudah teraudit.
“Masalah kerugiannya itu bervariasi setiap perusahaannya,” kata Kepala Divisi Komunikasi Publik kementerian BUMN, Teddy Poernomo, kemaren.
Dikutip dari data Kementerian BUMN, dari 22 perusahaan tersebut PT Garuda Indonesia (Persero) menjadi BUMN yang mengalami kerugian paling besar yaitu mencapai Rp4,6 triliun.
Seperti diketahui pada tahun lalu industri penerbangan Indonesia memang sedang mengalami tekanan. Hal itu disebabkan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Selain Garuda Indonesia, PT Krakatau Steel (Persero) menempati urutan kedua sebagai perusahaan BUMN yang mengalami kerugian. KS tercatat rugi sebesar Rp2,5 triliun.
Sedangkan di peringkat ketiga ada perusahaan maskapai BUMN yang saat ini sudah tidak beroperasi, yaitu PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) yang mengalami kerugian Rp1,5 triliun.
Beriktu Daftar 22 Perusahaan BUMN yang masih merugi di 2014 yang telah di audit:
- PT Garuda Indonesia, Tbk: Rp4,6 triliun
- PT Krakatau Steel Tbk: Rp2,5 triliun
- PT Merpati Nusantara Airlines: Rp1,5 triliun
- PT Antam Tbk: Rp775,2 miliar
- Perum Bulog: Rp458,9 miliar
- PT Rajawali Nusantara Indonesia: Rp281, miliar
- PT INTI: Rp265,8 miliar
- PT Dok dan Kodja Bahari: Rp175,9 miliar
- PT Dirgantara Indonesia: Rp157,9 miliar
- PT ASEI-REI: Rp128,1 miliar
- PT Iglas: Rp101,2 miliar
- PT Barata Indonesia: Rp96,5 miliar
- PT Dok dan Perkapalan Surabaya: Rp89,6 miliar
- PT Industri Sandang Nusantara: Rp67,9 miliar
- PT Berdikari: Rp47,9 miliar
- PT Perusahaan Perdagangan Indonesia: Rp37,4 miliar
- PT Survai Udara Penas: Rp20,8 miliar
- PT Indra Karya: Rp9,2 miliar
- PT Balai Pustaka: Rp8,4 miliar
- PT Primissima: Rp6,5 miliar
- PT PDIP Batam: Rp4,8 miliar
- Perum Produksi Film Negara: Rp789 juta
Sementara untuk BUMN yang rugi dan belum teraudit laporan keuangannya adalah:
- PT Sang Hyang Seri: Rp180 miliar
- PT Pertani: Rp123,3 miliar
- PT Kertas Kraft Aceh: Rp81 miliar.(lp/met)







