
TRANSINDONESIA.CO – Pada umumnya minat baca masyarakat tergolong rendah, jarang sekali mau membaca,atau berpikir yang cukup mendalam.Maunya instan, cepat, dikerjakan sesaat dan terkadang terkesan serba ajaib bagai turun dari langit”.
Tulisan text book dengan gaya tulisan ilmiah dianggap membuat puyeng dan dijauhi. Dipakai hanya saat bersekolah, perintah mewakili atau tugas dari ndoronya.
Dalam pelaksanaan tugas sama sekali tidak disentuh, karena dalam pelaksanaan tugas apa kata ndoronya itulah sabda, kebenaran.
Para ndoro selalu merasa sebagai shang hyang menangan yang selalu menang atau harus dimenangkan. Kalimat saktinya adalah :”ndoro can’t do no wrong”.
Wujudnya alus lembut namun, spriritnya seperti buto rambut geni. Yang wajahnya seram menakutkan dan yang parah adalah keserakahannya.
Mereka memang harus dimong bukan dibiarkan untuk ngemongnya memang perlu masukan atau saran yang singkat tanpa perlu pemikiran mendalam dalam implementasi terfokus pada yang ringan dan yang lucu.
Ketika memberikan yang muluk-muluk, jangankan diterapkan secara atau masuk dihatinya, diambus -ambusnya pun tidak.
Para leluhur kita mengajarkan fiosofinya dengan pendekatan kebudayaan melalui gaya atau cara bertutur,mendongeng? Agar menjadi menarik dan lucu dan banyak yang ingin belajar.
Mungkin membangun karakter bangsa ini dan mengajarkan kebaikan dapat dibuat seperti dongeng yang lucu seperti dagelan dan guyon maton akan lebih merasuk hati. Yang harapanya dapat merubah watak-watak buto (raksasa) menjadi wataksatria.
Membimbing kaum Brangasan para raksasa dan kaum jahat. Ini adalah tugas Togog Tejomantri. Togog yang sebenarnya adalah Bahara Antaga anak Shang Hyang Wenang, kakak Sang Hyang Ismaya (Semar) yang menitis ke dunia. Tugas Togog adalah ,meluruskan yang bengkok daripara raksasa dan kaum-kaum yang brangasan menjadi baik dan benar.
Menyadarkan, itu mengasihi yang berarti memang tidak boleh memusingkan atau dengan kekerasan maupun kebenciian melainkan membuat menjadi menarik, penuh canda, sehingga kritikan tidak membuat marah, melainkan menjadi tertawaan yang menarik dan dihayati tanpa sadar telah berubah tanpa dipaksa.(CDL-010415)
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana







