
TRANSINDONESIA.CO – Kapal Klinik Terapung milik Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) segera beroperasi pada akhir November atau awal Desember, kata Sekretaris Eksekutif LPMAK Emanuel Kemong di Timika, Rabu (5/11/2014).
“Kalau memungkinkan, sekitar akhir November atau awal Desember kapal klinik terapung yang saat ini masih ada di galangan kapal di Surabaya akan bertolak ke Pelabuhan Paumako Timika,” katanya.
Ia mengatakan bahwa pihaknya masih berkoordinasi dengan Bagian Protokoler Pemprov Papua untuk meminta kesediaan Gubernur Papua Lukas Enembe datang meresmikan beroperasinya kapal klinik terapung tersebut.
Menurut dia, saat ini LPMAK sedang menyelesaikan pembangunan fasilitas pengaman di lokasi berlabuhnya kapal klinik terapung tersebut di Jembatan Paumako II.
Manajemen LPMAK berencana berangkat ke Surabaya untuk melakukan uji berlayar dengan kapal klinik terapung yang dirakit di galangan kapal PT Indo Raya Surabaya. Setelah melakukan uji coba berlayar di sekitar perairan Surabaya, kapal tersebut segera bertolak ke Timika dengan waktu tempuh perjalanan sekitar empat hingga lima hari.
Pengoperasian kapal tersebut untuk sementara waktu dipercayakan kepada pihak PT Indo Raya Surabaya sambil melatih putra-putri Suku Amungme dan Kamoro yang nantinya dipercayakan untuk mengoperasikan kapal tersebut selanjutnya.
Emanuel menjelaskan bahwa kapal klinik terapung tersebut nantinya akan membantu melakukan pelayanan kesehatan warga di wilayah pesisir Mimika mulai dari wilayah Mimika Barat hingga Mimika Timur.
LPMAK sudah melakukan survei ada sejumlah lokasi yang memiliki dermaga yang bisa disandari kapal klinik terapung untuk melakukan pelayanan kesehatan masyarakat setempat.
“Kapal ini akan berlayar ke kampung-kampung lalu tim kesehatan akan turun memberikan pelayanan kepada masyarakat. Kalau ada pasien yang sakit gawat darurat langsung dievakuasi menggunakan kapal klinik terapung ke Timika. Kami juga menyiapkan sebuah klinik transit di Pelabuhan Paumako. Begitu pasien datang dari kampung, maka langsung disiapkan ambulans untuk membawa pasien ke rumah sakit di Timika,” jelas Emanuel.
Untuk pengadaan kapal klinik terapung tersebut, LPMAK menggelontorkan dana sekitar lebih dari Rp10 miliar. Biaya pembuatan kapal sedikit lebih mahal karena kapal klinik terapung tersebut tidak menggunakan baling-baling tetapi menggunakan jet air disesuaikan dengan kondisi perairan di wilayah pesisir Mimika yang sangat bergantung pada pasang surut. (ant/kum)






