TRANSINDONESIA.CO – Pembinaan Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan bagian penting dalam institusi, karena SDM aset utama dari suatau institusi tersebut. Dimana pembinaan SDM yang baik, menghasilkan atau menumbuh kembangkan SDM yang berkarkter.
SDM berkarakter dalam konteks ini adalah, pembinaan SDM berbasis pada kompetensi membangun disiplin atas dasar kesadaran dan tanggungjaawab serta mampu menanamkan nilai-nilai budaya organisasi (core value) kepada setiap individu untuk mempunyai komitmen dalam mencapai tujuan organisasi.
Dalam birokrasi yang patrimonial, kita melihat ada sistem-sistem pembinaan SDM yang berbasis pada pendekatan-pendekatan personal, tumbuh dan berkembangnya jabatan-jabatan yang dianggap basah dan menjadi paforit yang mengabaikan kompetensi bahkan tidak jarang menimbulkan konflik internal karena perebutan jabatan, rekrutmen yang sarat KKN, sistem kinerja yang tidak jelas (PGPS-pinter, goblok, penghasilan sama) dan banyak hal lain yang menjadikan birokrasi tidak sehat.
Itu semua, akibat dari sistem pembinaan SDM yang manual, konvensonal, parsial dengan mengendepankan pendekatan-pendekatan personal.
Pembinaaan SDM secara elektronik dibangun untuk mengikis atau meminimalisir hal tersebut diatas.
Pembinaan SDM secara elekronik ini diharapkan akan mampu:
1. Membangun sistem data base bagi setiap anggota Polri disemua lini dan tingkatan sesuai komptensi maupun spesifikasi sebagai track rcordnya.
2. Membangun standar-standar kualifikasi atau standar kompetensi untuk penempatan, promosi, mutasi dan demosi.
3. Memberikan akuntabilitas untuk mengikis KKN dan menuju the right people in the right place.
4. Membangun sistem jejaring atau networking dengan divisi, bagian, satuan fungsi baik internal maupun eksternal
5. Membangun dasar-dasar yang memberikan penilian kinerja, remunerasi, reward dan punishment.
6. Penyaluraan kerja atau penggunaan SDM secara fungsional didalam maupun diluar struktur Polri.
7. Membangun kaderisasi bagi pemimpin dimasa mendatang.
8. Menunjukaan adanya transparansi, akuntabilitas, dan memberikan harapan bagi anggota Polri yang berkarier atau mengambil keputusan.
Pembinaan SDM secara elektronik ini memerlukan sistem jejaring untuk pendataan, koordinasi, komunikasi, informaasi bahkan untuk sinergitas dan harmonisasi sebagai back office yang mempunyai link dengan bagian pembinaan mulai dari tingkat Mabes, Polda, Polres (baik untuk link SDM atau dari bagian-bagian lainnya).
Sedangkan pembinaan SDM yang berbasis elektronik diperlukan adanya SOP (Standart Operation Procedure) yang berisi:
1. Jod description dan job analysis
2. Standardisasi keberhasilan tugas (yang dijabarkan berjenjang mencakup: kepemimpinan, administrasi, operasional dan capcity building)
3. Sistem penilaian kinerja yang mencakup kepemimpinan, administrasi, operasional dan capcity building
4. Sistem reward dan punishment
5. Etika kerja (apa yang harus dilakukan atau apa yang tidak boleh dilakukan dan produk apa yang harus dihasilkan. Ini juga dijabarkan secara berjenjang dan variatif (do and dont).(CDL-Agst2014)
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana








