TRANSINDOENSIA.CO – Radio Republik Indonesia (RRI) satu lembaga, yang ikut merilis hasil hitung cepat (quick count) pemilu Presiden, 9 Juli lalu. Ini untuk pertama kalinya, RRI terlibat hitung cepat. Motivasi dan pendanaan quick count itu menimbulkan banyak pertanyaan.
“Unik, lembaga seperti RRI kok mau merepotkan diri melakukan quick count. Kenapa tidak menyiarkan saja seperti TVRI. Motivasinya apa? Dananya pun dipertanyakan,” ujar pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Firman Noor kepada pers, di Jakarta, Jumat (11/7/2014).
Dia mengungkapkan, baru pada pemilihan presiden kali ini, RRI melakukan quick count. Jadi, wajar banyak yang mempertanyakan tujuan lembaga penyiaran pemerintah itu yang terlibat aktif dalam hitung cepat suara. Apalagi, RRI menggunakan aplikasi Android “RRI Play” untuk memudahkan pengiriman hasil penghitungan suara di TPS.
Firman curiga, bisa saja quick count RRI ini didanai salah satu pasangan capres-cawapres.
“Pasti ada dana-dana yang belum pasti sumbernya. Dari mana dananya, tetap bisa dipertanyakan. Tetapi yang terpenting adalah, apa motivasinya,” ujar dia.
Firman menyebut, ikut sertanya RRI menggelar quick count menimbulkan kecurigaan dan kesan di masyarakat bahwa lembaga itu tidak independen.
“Ini memberikan kesan berpihak. Merusak citra RRI karena ada kecurigaan RRI menjadi corong kelompok tertentu,” ujar dia.(pi/yan)








