Mantan Menteri Keuangan, Sri Mulyani.(ist)
TRANSINDONESIA.CO – Penambahan penyertaan Modal Sementara (PMS) Bank Century hingga mencapai Rp6 triliun dari keputusan awal Rp632 miliar, membuat Sri Mulyani kecewa pada data-data dari Bank Indonesia (BI) terkait CAR (Credit Adequacy Ratio) Bank Century yang tidak akurat.
Hal itu diungkapkan Mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani saat menjadi saksi untuk terdakwa Budi Mulya di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Jumat (2/5/2014).
“Fakta, saya sangat kecewa kualitas data BI, tapi sebagai Menkeu saya tahu yang saya pertaruhkan sistem keuangan. Saya lontarkan berbagai kekecewaan,” kata Sri Mulyani.
Menurut Sri Mulyani, meminta BI bertanggungjawab secara profesional terhadap angka-angka CAR yang dilaporkan ke KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan).
Dalam kesaksiannya, Sri Mulyani mengungkapkan bank yang memiliki CAR di bawah minus 24 harus ditutup, namun Bank Century tetap mendapatkan bantuan dana meski memiliki CAR minus 35. Hal itu diketahui Sri Mulyani saat Bank Century sudah diambil alih LPS (Lembaga Penjamin Simpanan).
“Itu selalu soal judgement, bagaimana pembuat keputusan seperti saya membandingkan manfaat dan mudaratnya, yang dihadapkan pada kami mana mudarat paling kecil, biaya paling kecil. Saya tetap sampaikan kekecewaan saya. Ternyata banyaknya hal-hal yang tidak baik, kenapa hal itu muncul setelah diambil alih LPS,” tuturnya.
Sri Mulyani juga mengakui pernah meminta melihat kembali keputusan KSSK pada rapat Februari 2009 dimana saat itu kondisi ekonomi sudah dalam posisi stabil.
“Saya sampaikan, saya tanyakan apakah ada kemungkinan me-review keputusan. Saat itu, bulan Februari perekonomian sudah stabil, pembicaraan seperti ini bisa saja dilakukan,” ujarnya.
Saat Sri Mulyani meminta melakukan review kembali, Gubernur BI saat itu, Boediono mengatakan agar semua pihak menjalankan keputusan yang sudah dibuat.
“Kata Pak Gubernur (BI), Keputusan sudah dibuat dan jalankan saja keputusan itu untuk perekonomian Indonesia,” katanya.(mtv/fer)





