Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, pada Sabtu malam (5/9/2026). Transindonesia.co / Istimewa.
TRANSINDONESIA.co | JAKARTA — Sebanyak enam bandara resmi ditutup sementara waktu akibat masifnya sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau, di Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, masih sangat membahayakan keselamatan penerbangan nasional.
“Kementerian Perhubungan mengedepankan aspek keselamatan dan keamanan penerbangan. Pihak maskapai tidak memaksakan penerbangan apabila kondisi tidak memungkinkan,” ujar Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi.
Kebijakan penghentian operasional darurat ini mencakup Bandara Husein Sastranegara di Bandung, Bandara Soekarno-Hatta dan Budiarto di Tangerang, Pondok Cabe di Tangerang Selatan, Halim Perdanakusuma di Jakarta Timur, hingga Bandara Raden Inten II di Lampung.
“Apabila masih dibutuhkan, bantuan dari pemerintah pusat akan kami dorong,” tutur Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto dalam keterangan resminya.
Guna mempercepat pemulihan wilayah terdampak, pemerintah saat ini tengah menyiapkan operasi modifikasi cuaca (OMC) menggunakan teknik penyemaian awan dan *water-mist* untuk meluruhkan abu vulkanik di udara secara terukur dan aman.
“Kondisi lebih kondusif, kami akan melaksanakan OMC. Pesawat sudah siap di Pondok Cabe hari ini hingga malam nanti. Dua teknik untuk mendatangkan hujan saat tidak ada awan, khususnya di tengah musim kemarau panas ini,” tambah Suharyanto.
Di samping sektor transportasi udara, pemerintah juga mengimbau masyarakat luas, khususnya di wilayah terdampak seperti Lampung Selatan, Tanggamus, dan Pandeglang, untuk meningkatkan kewaspadaan serta menjaga kesehatan pernapasan.
“Pada wilayah yang terpapar abu vulkanik, untuk menjaga kesehatan pernapasan, lakukan kegiatan di dalam rumah. Apabila beraktivitas di luar rumah, pastikan menggunakan masker,” imbau Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. [sda/man]



