BPBD Kabupaten Sukoharjo melakukan pendataan dan pemadaman manual, di Kecamatan Tawangsari dan Bulu, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, pada Rabu (8/7/2026). Sumber foto : BPBD Kab. Sukoharjo.
TRANSINDONESIA.co, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB melakukan pemutakhiran data kejadian bencana dan upaya penanganan yang dilakukan pemerintah daerah pada periode Rabu 8 Juli hingga Kamis 9 Juli pukul 07.00 WIB. Berdasarkan laporan yang dihimpun, kejadian kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla masih mendominasi di sejumlah wilayah di Indonesia, di samping adanya laporan kejadian angin kencang.
“Badan Nasional Penanggulangan Bencana melakukan pemutakhiran data kejadian bencana dan upaya penanganan yang dilakukan pemerintah daerah pada periode Rabu hingga Kamis pukul 07.00 WIB,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangannya diterima redaksi, Kamis (9/7/2026).
Salah satu bencana yang menonjol adalah kekeringan yang terjadi di Desa Komus II Timur, Kecamatan Kaidipang, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Provinsi Sulawesi Utara, pada Rabu 8 Juli. Bencana ini dipicu oleh rendahnya curah hujan dalam waktu yang cukup lama sehingga menyebabkan berkurangnya debit sungai, mata air, sumur warga, dan sumber air bersih lainnya yang mengakibatkan sekitar 50 kepala keluarga terdampak kesulitan memperoleh air bersih.
“Bencana dipicu oleh rendahnya curah hujan dalam waktu yang cukup lama sehingga menyebabkan berkurangnya debit sungai, mata air, sumur warga, dan sumber air bersih lainnya,” kata Abdul Muhari.
Merespons kondisi tersebut, BPBD Kabupaten Bolaang Mongondow Utara melakukan asesmen dan pendataan wilayah terdampak, berkoordinasi dengan pemerintah desa, kecamatan, serta instansi terkait. Mereka juga menyalurkan bantuan air bersih menggunakan mobil tangki, di mana hingga Rabu 8 Juli, sebanyak 10.000 liter air bersih telah didistribusikan kepada masyarakat terdampak.
“Sebagai upaya penanganan, BPBD Kabupaten Bolaang Mongondow Utara melakukan asesmen dan pendataan wilayah terdampak, berkoordinasi dengan pemerintah desa, kecamatan, serta instansi terkait serta menyalurkan bantuan air bersih,” tutur Abdul Muhari.
Sementara itu, bencana karhutla dilaporkan terjadi di dua provinsi berbeda pada Rabu 8 Juli. Peristiwa pertama melanda Desa Gunung Manaon, Kecamatan Portibi, Kabupaten Padang Lawas Utara, Provinsi Sumatra Utara, yang menghanguskan sekitar lima hektare lahan, sedangkan peristiwa kedua melanda tiga desa di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, dengan luas lahan terbakar mencapai sekitar 3,5 hektare.
“Kebakaran hutan dan lahan terjadi di Desa Gunung Manaon, Kecamatan Portibi, Kabupaten Padang Lawas Utara, Provinsi Sumatra Utara, Rabu pukul 13.30 WIB,” jelas Abdul Muhari.
Upaya pemadaman di kedua wilayah tersebut langsung dilakukan oleh BPBD setempat bersama tim gabungan dan warga sekitar. Di Padang Lawas Utara api berhasil dipadamkan pada hari yang sama, begitu pula di Sukoharjo di mana petugas menggunakan gepyok disertai pembuatan ilaran untuk mencegah api meluas hingga akhirnya padam.
“Dalam penanganannya, BPBD Kabupaten Sukoharjo melakukan pemadaman menggunakan gepyok disertai pembuatan ilaran untuk mencegah api meluas,” ungkap Abdul Muhari.
Selain bencana kering, angin kencang juga menerjang Gampong Keude Geudong, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, pada Rabu 8 Juli pukul 18.00 WIB. Kejadian tersebut berdampak pada 11 kepala keluarga dan menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan dengan rincian tujuh unit rumah rusak berat, satu unit rumah rusak sedang, dan tiga unit rumah rusak ringan.
“Angin kencang menerjang Gampong Keude Geudong, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Rabu pukul 18.00 WIB,” sebut Abdul Muhari.
Tim Reaksi Cepat BPBD Kabupaten Aceh Utara segera bergerak melakukan pembersihan puing-puing rumah yang mengalami kerusakan. Di sisi lain, masyarakat yang terdampak telah mengevakuasi barang-barang berharga mereka ke tempat yang lebih aman di rumah kerabat terdekat.
“Merespon kejadian tersebut, Tim Reaksi Cepat BPBD Kabupaten Aceh Utara melakukan pembersihan puing-puing rumah yang mengalami kerusakan,” tambah Abdul Muhari.
Potensi bencana hidrometeorologi kering ini diperkirakan masih akan berlanjut berdasarkan prediksi curah hujan kumulatif dasarian I Juli 2026 atau periode 11 hingga 20 Juli 2026 dari BMKG. Sejumlah besar wilayah provinsi di Indonesia, mulai dari ujung Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua diperkirakan akan mengalami curah hujan rendah.
“Berdasarkan prediksi curah hujan kumulatif dasarian I Juli 2026 yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, sejumlah wilayah diperkirakan mengalami curah hujan rendah,” papar Abdul Muhari.
Menyikapi perkembangan situasi dan prediksi cuaca tersebut, BNPB mengeluarkan imbauan tegas kepada pemerintah daerah dan seluruh lapisan masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan. Masyarakat diminta bijak menggunakan air, menghindari aktivitas pemicu kebakaran, dan segera melapor jika menemukan titik api.
“Masyarakat agar menggunakan air secara bijak pada daerah yang mengalami kekeringan, menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan, serta segera melaporkan kepada aparat setempat apabila menemukan titik api,” pungkas Abdul Muhari. [nag]






