Petugas gabungan bahu membahu memadamkan api di Desa Mempaya, Kecamatan Damar, Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (5/7/2026). Transindonesia.co / BPBD Kabupaten Belitung Timur
TRANSINDONESIA.co, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus memperkuat langkah antisipasi dan mitigasi dalam menghadapi potensi dampak fenomena El Nino serta musim kemarau tahun 2026. Langkah ini diambil guna menekan risiko kekeringan, krisis air bersih, serta bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang saat ini mulai marak terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.
“Berbagai upaya mitigasi telah dilakukan BNPB bersama kementerian/lembaga terkait dan pemerintah daerah, antara lain melalui pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah prioritas, pembangunan sumur bor, pemasangan jaringan perpipaan, pendistribusian bantuan air bersih, serta penguatan kesiapsiagaan daerah dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi kering,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Ph.D, dalam keterangan resminya diterima redaksi, Selasa (7/7/2026).
Berdasarkan rangkuman data situasi bencana periode Minggu (5/7) pukul 07.00 WIB hingga Senin (6/7) pukul 07.00 WIB, peristiwa karhutla memang menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Salah satunya terjadi di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada Minggu (5/7) yang menghanguskan lahan seluas 3,7 hektare di Kelurahan Cempaka dan Kelurahan Landasan Ulin Selatan. Meski tidak ada korban jiwa, BPBD setempat bersama petugas gabungan dan masyarakat harus bekerja ekstra melakukan pemadaman agar api tidak meluas.
“Kami menerima laporan bahwa selain di Banjarbaru, karhutla sebelumnya juga melanda Desa Mempaya, Kabupaten Belitung Timur, pada Sabtu (4/7) malam dengan luas lahan terbakar mencapai satu hektare. Beruntung, berkat respons cepat BPBD setempat, api berhasil dipadamkan dan proses pendinginan telah selesai sehingga kondisi dinyatakan aman terkendali,” jelas Abdul Muhari.
Berdasarkan prakiraan dari BMKG, sejumlah wilayah di Indonesia kini memang mulai memasuki periode musim kemarau yang ditandai dengan penurunan curah hujan serta peningkatan suhu udara. Oleh karena itu, BNPB meminta pemerintah daerah untuk tidak lengah dan mengoptimalkan seluruh upaya pencegahan di lapangan.
“Pemerintah daerah diimbau untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan, memperkuat sistem peringatan dini, melakukan pemantauan ketersediaan sumber air, serta mengoptimalkan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan,” tegasnya.
Di sisi lain, partisipasi aktif dari masyarakat juga menjadi kunci utama dalam melewati fase kemarau kering ini. BNPB meminta warga untuk sadar lingkungan dengan tidak memicu aktivitas yang dapat memantik api di area terbuka.
“BNPB mengimbau masyarakat agar menggunakan air secara bijak, tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apa pun, serta segera melaporkan potensi kebakaran maupun kondisi kedaruratan kepada petugas terkait. Kesiapsiagaan, mitigasi, dan respons cepat seluruh unsur menjadi langkah penting dalam meminimalkan risiko serta dampak bencana selama periode musim kemarau dan potensi El Nino tahun 2026,” pungkas Abdul Muhari. [man]






