Tim gabungan melakukan pembukaan bendung alami yang terbentuk akibat gempabumi di kawasan Gunung Nokilalaki yang mengarah ke Sungai Kamarora, Selasa (23/6/2026). Transindonesia.co / BNPB
TRANSINDONESIA.co, JAKARTA – Penanganan darurat pascagempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, terus menunjukkan perkembangan yang lebih baik. Memasuki hari kedelapan masa tanggap darurat pada Rabu 24 Juni 2026, pembangunan hunian sementara bagi warga terdampak mulai dilaksanakan melalui peletakan batu pertama di Desa Kamarora A, Kecamatan Nokilalaki. Bupati Sigi telah menetapkan Surat Keputusan Berita Acara Nama dan Alamat penerima bantuan huntara tahap pertama sebanyak 50 unit rumah berdasarkan data yang telah diverifikasi dan divalidasi.
“Pembangunan hunian sementara tahap pertama ini menjadi langkah penting dan strategis dalam percepatan pemulihan masyarakat terdampak, agar mereka segera mendapatkan tempat tinggal yang lebih layak selama masa transisi,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangan tertulisnya, diterima redaksi, Rabu (24/6/2026).
Hingga saat ini, dampak gempa di Kabupaten Sigi tercatat sebanyak 3.600 kepala keluarga atau 9.609 jiwa terdampak. Kerusakan infrastruktur yang terdata sementara meliputi 1.979 rumah rusak ringan, 277 rumah rusak sedang, dan 277 rumah rusak berat. Selain permukiman, gempa juga merusak 110 rumah ibadah yang terdiri dari 29 masjid dan 81 gereja, 19 gedung perkantoran termasuk Kantor Bupati, 35 bangunan sekolah, serta 10 puskesmas.
“Data kerusakan tersebut masih bersifat sementara karena kami masih menunggu hasil verifikasi teknis lebih lanjut mengenai struktur bangunan di lapangan,” kata Abdul Muhari.
Di sektor mitigasi risiko, tim gabungan fokus melakukan pembukaan bendung alami yang terbentuk akibat gempabumi di kawasan Gunung Nokilalaki yang mengarah ke Sungai Kamarora. Petugas menggunakan jet water untuk membuka material kayu dan bebatuan yang menyumbat aliran sungai. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi penumpukan air dan meminimalkan potensi ancaman banjir bandang maupun aliran material saat terjadi hujan.
“Pembukaan sumbatan material di Sungai Kamarora ini merupakan tindakan antisipasi yang sangat krusial guna menghindari bencana susulan seperti banjir bandang, sesuai dengan arahan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto saat meninjau lokasi,” tutur Abdul Muhari.
Selain penanganan lingkungan, perbaikan infrastruktur darurat berupa pemasangan bronjong dan perbaikan jaringan air bersih di Kecamatan Nokilalaki juga mulai dilaksanakan dengan dukungan pendanaan dari PUM Sulawesi Tengah. Untuk mendukung pemenuhan kebutuhan dasar, Badan Nasional Penanggulangan Bencana kembali menyalurkan bantuan tahap ketiga yang terdiri atas mobil dapur umum lapangan, handy talky, tenda pengungsi, motor trail, paket sembako, matras, dan selimut untuk didistribusikan melalui Kodam, Korem, dan BPBD setempat.
“Kami pastikan ketersediaan logistik permakanan dan pemenuhan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak masih berjalan siaga dan mencukupi hingga berakhirnya masa tanggap darurat,” jelas Abdul Muhari.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika hingga Selasa 23 Juni 2026 pukul 24.00 waktu setempat, telah terjadi 1.349 kali gempa susulan sejak gempa utama pada 16 Juni 2026. Dari jumlah tersebut, terdapat 49 gempa yang dirasakan oleh masyarakat dengan kekuatan terbesar magnitudo 5,3 yang tercatat satu kali. BMKG mengonfirmasi bahwa aktivitas gempa susulan saat ini sudah menunjukkan tren penurunan yang signifikan.
“Meskipun aktivitas gempa susulan terus menunjukkan tren penurunan, Pemerintah Kabupaten Sigi tetap menetapkan status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi selama 14 hari, terhitung sejak 16 hingga 30 Juni 2026, demi mengoptimalkan seluruh pelayanan pemulihan,” pungkas Abdul Muhari. [nag]






