Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Anadolu Agency)
TRANSINDONESIA.co, JAKARTA —Pemerintah Jepang menyatakan akan melanjutkan upaya diplomatik dengan negara-negara terkait dalam berusaha meredakan ketegangan di tengah serangan AS-Israel terhadap Iran.
Diketahui, serangan AS-Israel terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari lalu membuat pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei tewas.
Dalam sidang Komite Anggaran Majelis Rendah pada Senin, 2 Maret 2026, serangkaian pertanyaan tentang Iran dilontarkan.
Kepala komite strategi pemilihan Partai Demokratik untuk Rakyat, Muraoka Toshihide, mengatakan Perdana Menteri Takaichi Sanae harus memimpin untuk mencegah perkembangan yang tidak terduga.
Mengutip NHK, Ketua Partai Komunis Jepang Tamura Tomoko mengatakan Jepang harus mendesak AS dan Israel untuk menghentikan serangan preemtif.
Takaichi mengatakan timnya sedang menyiapkan jadwal diplomatik yang akan memungkinkannya untuk melakukan upaya maksimal guna memulihkan perdamaian di Timur Tengah. Ia menambahkan pemerintahannya sudah terlibat dalam upaya tersebut.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Motegi Toshimitsu menyampaikan keprihatinan mendalam atas memburuknya situasi pada Senin malam, dalam pertemuan terpisah di Tokyo dengan duta besar Israel dan Iran untuk Jepang.
Dalam pertemuan dengan utusan Iran, Motegi menyerukan kepada Iran untuk menghentikan tindakan yang dapat mendestabilisasi kawasan, termasuk serangan terhadap negara-negara tetangga.
Pemerintah Jepang menyatakan tetap berkomitmen terhadap upaya diplomatik yang berkelanjutan. Motegi diperkirakan akan mengadakan pembicaraan telepon dengan mitranya di Oman.
Kementerian Luar Negeri mengatakan sekitar 8.900 warga negara Jepang saat ini berada di 11 negara di seluruh kawasan, termasuk Iran dan Israel.
Pemerintah telah membantu lima warga negara Jepang untuk dievakuasi dari Israel melalui jalur darat ke Amman, ibu kota Yordania. [nhk/sfn]







