Tim BPBD membantu mengevakuasi warga dari lokasi terdampak banjir di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Selasa (17/2/2026). Transindonesia.co / BPBD Demak
TRANSINDONESIA.CO, DEMAK – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan total 28 kejadian bencana melanda berbagai wilayah di Indonesia dalam periode 17 hingga 18 Februari 2026 pagi. Data yang dihimpun Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) ini mencakup rentetan bencana mulai dari banjir, tanah longsor, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) jelang awal Ramadan 1447 H.
“Hasil pemantauan periode 17 Februari pukul 07.00 WIB hingga minus 1 awal Ramadhan 1447 H, yakni pada 18 Februari pukul 07.00 WIB, mencatat total 28 kejadian bencana di berbagai wilayah Indonesia,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Rabu (18/2/2026).
Provinsi Jawa Tengah menjadi wilayah dengan dampak paling signifikan. Banjir bandang di Kabupaten Pekalongan berdampak pada 59.729 jiwa dan menyebabkan satu orang meninggal dunia. Sementara di Kabupaten Pemalang, banjir bandang mengakibatkan satu korban jiwa dan sembilan luka-luka, serta di Purbalingga, satu warga dilaporkan meninggal dunia akibat bencana serupa.
” Di Kabupaten Pekalongan, banjir berdampak pada kurang lebih 18.903 kepala keluarga atau 59.729 jiwa, di mana kondisi air belum sepenuhnya surut meski sebagian warga mulai kembali ke rumah,” jelas Abdul Muhari dalam keterangannya.
Selain Jawa Tengah, bencana baru juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Banjir dan longsor di wilayah tersebut memaksa 66 jiwa mengungsi dan berdampak pada 185 rumah. Akses jalan Sipange menuju Aek Garut hingga kini masih terputus akibat material longsoran yang belum tertangani sepenuhnya sejak kejadian sebelumnya.
“Status penanganan di Tapanuli Tengah berada pada masa Transisi Darurat ke Pemulihan hingga 30 Maret 2026, dengan pendampingan langsung dari tim gabungan BNPB,” tambahnya.
Di sisi lain, ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) terus meluas di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Di Provinsi Riau, luas lahan yang terbakar sejak awal tahun telah mencapai 566,8 hektare yang tersebar di 11 kabupaten/kota. Sementara di Kalimantan Barat, tepatnya di Kota Singkawang, titik api baru terpantau bertambah sekitar 5 hektare dan masih dalam proses pemadaman.
“Karhutla di Riau saat ini berada di bawah status Siaga Darurat yang berlaku hingga 30 November 2026, dan upaya pemadaman terus diintensifkan di sejumlah titik titik rawan,” tegasnya.
Untuk wilayah Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat, kondisi banjir dilaporkan mulai berangsur surut. Di Kabupaten Jember, masa Tanggap Darurat ditetapkan hingga 25 Februari setelah banjir menyebabkan satu orang meninggal dunia dan merusak belasan rumah. Sedangkan di Kabupaten Sumbawa, masyarakat mulai melakukan pembersihan mandiri setelah debit air menurun.
“Kondisi terkini di beberapa wilayah seperti Semarang dan Sumbawa menunjukkan air telah surut, dan warga mulai melakukan pembersihan lingkungan secara mandiri,” pungkas Abdul Muhari. [nag]






