Dalam hening dan Isak tangis puluhan keluarga korban tabur bunga di hamparan sisa tanah longsor lereng Gunung Burangrang, Pasirlangu, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Jumat (6/2/2026). Transindonesia.co / Tangkapan layar.
TRANSINDONESIA.CO | BANDUNG — Puluhan keluarga korban tabur bunga diiringi isak tangis di atas hamparan sisa material melepas orang-orang tercinta yang nyawanya terenggut bencana tanah longsor, di lokasi titik-titik yang selama 14 hari menjadi area pencarian intensif di lereng Gunung Burangrang, Pasirlangu, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.
Aksi ini menjadi cara keluarga menyampaikan doa dan penghormatan bagi orang-orang tercinta yang belum sepenuhnya kembali, mengembalikan ingatan manusia di lokasi yang semula hanya dikenal sebagai titik pencarian.
Aksi tabur bunga ini dilakukan tepat setelah Pemerintah Kabupaten Bandung Barat secara resmi mencabut status tanggap darurat pada 6 Februari 2026.
Keluarga korban datang silih berganti, sebagian besar menundukkan kepala di sisa-sisa reruntuhan yang masih menyimpan trauma mendalam.
Bagi mereka, tabur bunga adalah bentuk pemenuhan hak spiritual bagi korban yang belum teridentifikasi sempurna, sekaligus tanda dimulainya masa transisi dari duka mendalam menuju pemulihan fisik dan mental.
Meski Tim SAR Gabungan telah mengevakuasi 94 kantong jenazah, ritual ini menjadi momen krusial bagi keluarga untuk menerima kenyataan pahit di tengah medan yang masih labil, di mana sebagian korban masih dalam proses identifikasi lanjutan oleh tim DVI Polri.
Pencabutan status tanggap darurat dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan personel dan kondisi medan yang labil, namun penghentian masa tanggap darurat bukanlah penghentian empati.
Sekretaris Daerah Kabupaten Bandung Barat (KBB), Ade Zakir, memastikan pendampingan bagi keluarga korban, pemenuhan hak-hak korban, serta layanan trauma healing tetap dilanjutkan pada masa pemulihan pascabencana.
Seiring dengan berakhirnya doa di lereng gunung, fokus pemerintah kini beralih pada normalisasi layanan publik dan sektor pendidikan.
Empat sekolah yang sebelumnya digunakan sebagai posko mulai dibersihkan agar para siswa dapat kembali belajar secara tatap muka setelah selama ini bergantung pada sistem daring akibat situasi darurat.
“Kami menargetkan kegiatan belajar mengajar tatap muka dapat kembali dilaksanakan mulai awal pekan depan setelah proses pembersihan dan pengecekan sarana prasarana selesai,” ujar Sekretaris Daerah KBB, Ade Zakir, dikutip dalam keterangannya, Ahad (8/2/2026).
Kini, di bawah bayang-bayang Gunung Burangrang, sisa-sisa bunga yang mulai mengering di atas tanah menjadi saksi bisu berakhirnya operasi kemanusiaan terbesar di Cisarua tahun ini.
Pemerintah kini tengah menggodok rencana rehabilitasi, rekonstruksi, hingga opsi relokasi permanen guna memastikan tragedi serupa tidak kembali merenggut nyawa warga di masa depan. [arh]






