
TRANSINDONESIA.CO | JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan serangkaian bencana hidrometeorologi basah berupa tanah longsor dan tanah bergerak yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia sejak Jumat (6/2) hingga Sabtu (7/2) pagi. Insiden tragis di Kabupaten Bangka dan Pemalang tercatat menelan tujuh korban jiwa, sementara ribuan warga di Kabupaten Tegal terpaksa mengungsi akibat tanah bergerak yang merusak ratusan rumah.
“Laporan peristiwa yang berhasil dihimpun sejak Jumat hingga Sabtu pukul 07.00 WIB didominasi oleh kejadian bencana yang dipicu oleh cuaca ekstrem dan fenomena hidrometeorologi basah,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangan, Sabtu (7/2/2026).
Bencana paling mematikan terjadi di area pertambangan timah, Desa Pemali, Kabupaten Bangka. Longsor yang dipicu hujan intensitas tinggi sejak Kamis (5/2) dini hari mengakibatkan enam orang meninggal dunia. Hingga saat ini, tim gabungan masih melakukan pencarian intensif menggunakan tiga unit ekskavator terhadap satu korban yang masih dinyatakan hilang, sementara empat lainnya berhasil selamat.
“Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut juga mengakibatkan meluapnya air sungai hingga ke area sekitar permukiman dan lokasi aktivitas pertambangan, sehingga menyulitkan proses evakuasi awal,” jelas pernyataan resmi BNPB.
Tragedi serupa menimpa Desa Jojogan, Kabupaten Pemalang, pada Jumat sore. Sebuah tebing runtuh menimpa satu unit rumah warga yang mengakibatkan satu orang meninggal dunia dan satu lainnya luka-luka. Material longsoran hingga kini masih menimbun bangunan tersebut sementara petugas tetap bersiaga memantau potensi longsor susulan di lokasi kejadian.
“BPBD Kabupaten Pemalang telah melakukan koordinasi dengan pihak desa dan kecamatan untuk mendokumentasikan laporan kejadian serta menyusun langkah penanganan darurat bagi keluarga terdampak,” tambahnya.
Sementara itu, krisis pengungsian besar terjadi di Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal. Fenomena tanah bergerak yang aktif sejak Selasa (3/2) telah memaksa 2.425 warga dan 526 santri meninggalkan rumah mereka.
Data terbaru menunjukkan 464 unit rumah mengalami kerusakan, dengan 205 di antaranya masuk kategori rusak berat. Selain permukiman, 36 fasilitas umum termasuk jalan, jembatan, dan bendungan irigasi turut hancur.
“Saat ini, prioritas utama adalah keselamatan warga, pemenuhan kebutuhan dasar, serta pelayanan kesehatan bagi kelompok rentan di enam titik lokasi pengungsian yang telah disediakan,” tegas Abdul Muhari.
Pemerintah Kabupaten Tegal telah menetapkan Status Tanggap Darurat selama 14 hari hingga 16 Februari 2026. Fokus penanganan saat ini meliputi operasional dapur umum yang menyediakan ribuan porsi makanan setiap hari serta pemenuhan air bersih.
Terkait nasib warga ke depan, opsi relokasi atau pembangunan hunian sementara masih menunggu rekomendasi teknis dari Badan Geologi mengenai keamanan lahan.
“BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem. Segera lapor jika ditemukan tanda awal bencana seperti retakan tanah atau peningkatan debit air sungai,” tutupnya. [sda/nag]






