Proses evakuasi warga terdampak pergerakan tanah di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Transindonesia.co / BPBD Jawa Tengah
TRANSINDONESIA.CO | TEGAL – Sebanyak 1.686 warga Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat fenomena pergerakan tanah yang terjadi sejak Senin (2/2/2026) malam. Pemerintah Kabupaten Tegal telah menetapkan Status Tanggap Darurat selama 14 hari, terhitung sejak 3 hingga 16 Februari 2026, guna mempercepat penanganan di lokasi bencana.
“Data hingga Kamis malam menunjukkan 295 Kepala Keluarga terdampak, dan jumlah ini berpotensi terus bertambah karena pergerakan tanah masih berlangsung secara aktif,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Jumat (6/2/20226).
Dampak kerusakan tercatat sangat masif, mencakup 464 rumah warga dengan 205 di antaranya mengalami rusak berat. Selain permukiman, fasilitas publik seperti tujuh unit sekolah, kantor desa, jembatan, hingga bendung irigasi turut hancur. Bahkan, gedung Pondok Pesantren Al Adalah dilaporkan ambruk, memaksa ratusan santri dievakuasi ke tempat yang lebih aman.
“Tim SAR dan BPBD fokus mengevakuasi warga ke enam titik pengungsian utama, termasuk gedung sekolah dan balai desa, untuk memastikan keselamatan jiwa menjadi prioritas utama saat ini,” lanjutnya.
Rincian pengungsi terdiri dari 1.160 warga desa dan 526 santri. Saat ini, kebutuhan dasar mulai disalurkan melalui aktivasi posko darurat dan dapur umum di empat lokasi berbeda.
Layanan kesehatan keliling serta distribusi air bersih melalui truk tangki juga telah dioperasikan oleh PDAM dan Pamsimas untuk melayani warga di pengungsian.
“Pemerintah daerah tengah mengupayakan lahan untuk hunian sementara bagi warga terdampak, sambil menunggu rekomendasi teknis mengenai keamanan lahan dari pihak Badan Geologi,” tambah Abdul Muhari.
BNPB terus memantau perkembangan situasi dan mengimbau masyarakat untuk tetap waspada serta mengikuti instruksi petugas di lapangan. Upaya perbaikan infrastruktur vital, seperti pipa air bersih dan akses jalan yang terputus, kini sedang dilakukan oleh klaster sarana dan prasarana di bawah koordinasi BPBD setempat.
“Kami meminta warga untuk selalu mengikuti arahan BPBD guna mengantisipasi ancaman pergerakan tanah yang meluas, mengingat kondisi geologi di lokasi yang masih belum stabil,” pungkasnya. [nag]






