BPBD Kabupaten Bondowoso mendistribusikan air bersih bagi warga Desa Klekean, Kecamatan Botolinggo, Kabupaten Bondowoso yang dilanda kekeringan pada Rabu (28/1/2026). Transindonesia.co /BPBD Kabupaten Bondowoso
TRANSINDONESIA.CO | JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan rentetan bencana hidrometeorologi berupa banjir yang melanda Provinsi Jawa Barat dan Jawa Timur pada periode 28–29 Januari 2026. Di Kabupaten Indramayu, sebanyak 2.724 jiwa terdampak banjir akibat hujan intensitas tinggi, dengan 206 warga terpaksa mengungsi ke tiga titik aman yang telah disediakan pemerintah daerah.
“Kami mencatat adanya pergerakan pengungsian mandiri dari warga Indramayu ke lokasi yang lebih aman, dan pemenuhan kebutuhan dasar menjadi prioritas utama saat ini,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangannya diterima redaksi, Kamis (21/2026).
Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Jember, Jawa Timur, di mana banjir menggenangi tiga kecamatan, yakni Patrang, Sumbersari, dan Kaliwates sejak Rabu (28/1). Sebanyak 191 Kepala Keluarga (KK) terdampak dengan kerugian materiil mencakup rumah warga, unit ruko, hingga tempat kos, meski hingga saat ini tidak ada laporan warga yang mengungsi.
“Meskipun genangan air di Jember terpantau mulai surut hari ini, BPBD setempat terus mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan karena curah hujan masih tinggi,” jelasnya.
Ironisnya, di tengah kepungan banjir, Kabupaten Bondowoso justru melaporkan bencana kekeringan di Desa Klekean, Kecamatan Botolinggo. Kurangnya curah hujan di wilayah tersebut menyebabkan lahan persawahan mengering dan berdampak pada 149 KK, sehingga distribusi air bersih segera dikerahkan oleh BPBD setempat sebagai langkah respons cepat.
“Fenomena anomali cuaca ini menunjukkan betapa dinamisnya potensi bencana kita, di mana satu sisi mengalami banjir, namun wilayah lainnya justru mulai kesulitan air bersih,” tambah Abdul Muhari.
Hingga Kamis (29/1), kondisi genangan di wilayah terdampak banjir secara umum berangsur surut dengan tinggi muka air yang bervariasi. BNPB meminta seluruh masyarakat untuk tetap siaga menghadapi cuaca ekstrem serta menyiapkan tas siaga bencana guna mengantisipasi ancaman bencana geologi maupun hidrometeorologi yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
“Masyarakat diharapkan untuk senantiasa memantau informasi resmi dari sumber terpercaya seperti BNPB, BPBD, dan BMKG agar tidak terpengaruh informasi yang belum tentu kebenarannya,” pungkasnya. [nag]
