Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Alam (Satgas Gunbencal) bersihkan tumpukan kayu gelondongan dan material lumpur yang menimbun kawasan Pondok Pesantren Islam Terpadu Darul Mukhlisin, Desa Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Kamis (25/12/2025). Transindonesia.con/Ist
TRANSINDONESIA.CO | MEDAN – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan perkembangan terkini penanganan darurat dan pemulihan Bencana Sumatra hidrometeorologi basah melanda Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, hingga pertengahan Januari 2026, korban meninggal dunia bertambah menjadi 1.190 orang.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengungkapkan adanya penambahan data korban jiwa setelah tim gabungan berhasil menemukan satu korban meninggal dunia di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.
“Dengan penemuan tersebut, total korban meninggal dunia akibat bencana hidrometeorologi di tiga provinsi mencapai 1.190 orang, sementara korban hilang tercatat sebanyak 141 orang,” ujar Abdul Muhari dalam keterangan resminya diterima redaksi, Kamis (15/1/2026).
Meskipun angka korban jiwa cukup besar, BNPB mencatat adanya tren positif terkait kembalinya warga ke lingkungan asal.
Abdul Muhari menjelaskan bahwa sebanyak 64.021 jiwa telah meninggalkan pengungsian untuk kembali ke rumah masing-masing, terutama di wilayah Kabupaten Aceh Tamiang.
Menurutnya, penurunan jumlah pengungsi ini sangat dipengaruhi oleh percepatan pembangunan hunian sementara (huntara), pembukaan akses jalan yang sempat terputus, serta pembersihan kawasan permukiman yang kini mulai kondusif untuk dihuni kembali.
Terkait infrastruktur, BNPB bersama pemerintah daerah tengah memacu pembangunan huntara dengan target penyelesaian yang cukup ketat.
“BNPB terus mengakselerasi pembangunan hunian sementara dengan target utama penyelesaian sebelum bulan Ramadan,” tegas Abdul Muhari.
Dari total 51.740 unit rumah yang mengalami rusak berat, sebanyak 27.560 unit telah diajukan untuk pembangunan huntara, di mana ribuan unit di antaranya saat ini sedang dalam proses konstruksi dan sebagian telah siap huni.
Selain hunian fisik, dukungan finansial melalui Dana Tunggu Hunian (DTH) juga terus dioptimalkan. Abdul Muhari menyatakan bahwa hingga pertengahan Januari, pengajuan DTH telah mencapai 15.305 kepala keluarga.
Ia menambahkan bahwa proses verifikasi rekening penerima terus dilakukan guna memastikan bantuan tunai tersebut tersalurkan secara tepat sasaran demi membantu masyarakat selama masa transisi menuju hunian tetap.
Di sisi lain, untuk mengantisipasi risiko bencana susulan akibat cuaca ekstrem, BNPB secara masif menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di tiga provinsi terdampak dengan total bahan semai mencapai ratusan ton.
“Operasi ini ditujukan untuk mengendalikan intensitas curah hujan dan mengurangi potensi bencana susulan di wilayah rawan,” pungkas Abdul Muhari. Melalui koordinasi yang solid bersama TNI, Polri, dan relawan, BNPB berkomitmen memastikan seluruh langkah pemulihan berjalan efektif, terukur, dan mampu membangun kembali ketangguhan masyarakat dalam menghadapi risiko bencana di masa depan. [don]
