Gelombang cuaca ekstrem musim dingin diperkirakan melanda wilayah pesisir Laut Jepang. Foto: NHK
TRANSINDONESIA.CO | JAKARTA – Gelombang cuaca ekstrem musim dingin diperkirakan melanda wilayah pesisir Laut Jepang dengan intensitas tinggi hingga Senin, 12 Januari 2026.
Badan meteorologi setempat memperingatkan bahwa badai salju lebat disertai angin kencang berpotensi menutupi area luas dari Jepang bagian utara hingga barat daya.
Mengutip NHK, fenomena ini dipicu oleh pola tekanan udara musim dingin yang sangat kuat, ditambah masuknya massa udara dingin dari benua Asia.
Kondisi tersebut menyebabkan hujan salju meluas dari Hokkaido hingga Kyushu, dengan intensitas yang berbeda-beda di setiap wilayah.
Angin kencang tercatat di sejumlah daerah. Di Bandara Oki, Prefektur Shimane, Jepang barat, kecepatan angin mencapai 109 kilometer per jam dalam periode tiga jam hingga Minggu, 11 Januari 2026 pukul 06.00 waktu setempat.
Sementara itu, Kota Wakkanai di Hokkaido mencatat curah salju setebal 13 sentimeter hanya dalam enam jam hingga pukul 05.00.
Wilayah pegunungan di kawasan Tohoku serta Prefektur Niigata dan Gifu diperkirakan menjadi daerah yang paling terdampak. Dalam kurun 24 jam hingga Senin pagi, ketebalan salju di kawasan tersebut berpotensi mencapai 80 sentimeter.
Daerah Hokuriku diprediksi menerima hingga 70 sentimeter salju, diikuti wilayah Kinki sekitar 60 sentimeter, serta Hokkaido, Kanto-Koshin, dan Chugoku hingga 50 sentimeter.
Dampak cuaca ekstrem ini mulai terasa pada sektor transportasi. Sejumlah layanan kereta api dilaporkan dibatalkan, khususnya di wilayah Tohoku dan Hokuriku, akibat kondisi jalur yang tertutup salju dan risiko keselamatan perjalanan.
Sektor penerbangan juga terdampak. Maskapai All Nippon Airways (ANA) dan Japan Airlines (JAL) telah membatalkan sejumlah penerbangan sejak Minggu pagi, terutama rute yang menghubungkan wilayah Sanin dan Hokuriku dengan daerah lain. Kedua maskapai menyatakan pembatalan tambahan masih mungkin dilakukan jika kondisi cuaca memburuk.
Masyarakat diimbau tetap waspada, membatasi perjalanan yang tidak mendesak, serta mengikuti informasi terbaru dari otoritas setempat terkait perkembangan cuaca ekstrem ini. [nhk]
