Visual dampak banjir dan tanah longsor yang terjadi akibat hujan dengan intensitas tinggi di Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan, Kamis (1/1/2026). Foto: BPBD Kabupaten Jayawijaya
TRANSINDONESIA.co | JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan terjadinya lima kejadian bencana baru di berbagai wilayah Indonesia selama periode pergantian tahun, mulai 31 Desember 2025 hingga 1 Januari 2026. Bencana yang didominasi oleh banjir dan tanah longsor ini dipicu oleh tingginya curah hujan ekstrem di sejumlah titik strategis.
“Dalam periode tersebut tercatat sebanyak lima kejadian bencana baru, yang didominasi oleh bencana hidrometeorologi basah akibat tingginya curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari, Ph.D., dalam keterangannya, Jumat (2/1/2026).
Dampak banjir paling signifikan dilaporkan terjadi di wilayah Kalimantan. Di Kabupaten Barito Selatan, sebanyak 13.392 jiwa terdampak dengan debit air yang masih terus meningkat. Sementara itu, di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, banjir setinggi 70 sentimeter merendam ribuan rumah warga, memaksa petugas di lapangan untuk tetap siaga penuh selama malam tahun baru.
“Kondisi debit air di Barito Selatan masih mengalami kenaikan dan banjir belum surut. Di Tabalong, banjir masih menggenangi wilayah terdampak dengan tinggi muka air sekitar 9 hingga 70 sentimeter,” jelas Abdul Muhari dalam laporannya.
Beralih ke wilayah timur, Kabupaten Jayawijaya di Papua Pegunungan juga dihantam banjir dan tanah longsor yang mengakibatkan 300 warga terpaksa mengungsi. Situasi di lokasi dilaporkan masih rawan mengingat hujan dengan intensitas tinggi diprediksi masih akan terus mengguyur wilayah tersebut dalam beberapa hari ke depan.
“Kejadian ini berdampak pada 75 kepala keluarga yang mengungsi. Hujan dengan intensitas tinggi masih terus terjadi sehingga potensi bencana susulan masih perlu diwaspadai,” tambahnya.
Sementara itu, penanganan darurat berskala besar masih berlanjut di Provinsi Aceh, khususnya di Kabupaten Bener Meriah yang mengalami kerusakan infrastruktur parah dan korban jiwa dalam jumlah besar. Akses transportasi di wilayah ini masih sangat terbatas akibat kerusakan ratusan ruas jalan, sehingga pemerintah daerah memutuskan untuk memperpanjang status tanggap darurat.
“Pemerintah daerah telah menetapkan perpanjangan status tanggap darurat dan BNPB terus melakukan pendampingan melalui tim gabungan untuk pemulihan akses jalan dan pembangunan hunian sementara,” kata Abdul Muhari.
Sebagai langkah antisipasi menghadapi puncak musim hujan di awal tahun 2026, BNPB menginstruksikan seluruh jajaran BPBD dan masyarakat untuk memperkuat sistem peringatan dini. Masyarakat diminta proaktif dalam menjaga kebersihan lingkungan dan menyiapkan rencana kesiapsiagaan keluarga untuk meminimalkan risiko jatuhnya korban jiwa.
“Masyarakat diharapkan aktif memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari BPBD setempat guna meminimalkan risiko dan dampak bencana,” pungkasnya. [nag]
