Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Arif Satria. Transindonesia.co / BRIN
TRANSINDONESIA.co | Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, memikul harapan menjadi pemimpin global dalam ekosistem ekonomi syariah. Arah tersebut dipertegas dalam Rapat Kerja Nasional Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI), di Jakarta, Jumat (28/11/2025), menghadirkan para pengusaha muslim, dan perwakilan pemerintah di antaranya; Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi, serta Kementerian PPN/Bappenas.
Dalam forum tersebut, Kepala BRIN Prof Arif Satria menekankan bahwa masa depan ekonomi Indonesia bergantung pada kemampuan membangun innovation-driven economy. Ia mendorong IAEI dan pengusaha muslim terlibat aktif dalam inovasi agar ekonomi syariah memiliki daya saing global. “Ekonomi Islam tidak mungkin tumbuh tanpa fondasi inovasi. Ekosistem riset, infrastruktur, pendanaan, talent, dan kolaborasi lintas pihak harus diperkuat,” tegasnya.
Arif berkata, konsep halalan thayyiban juga menjadi pembahasan penting. Dalam konteks ketahanan pangan, BRIN menunjukkan berbagai inovasi untuk mengatasi food loss dan food waste, termasuk teknologi Mesin Pengawet Pangan (Food Saver) dan fasilitas iradiasi untuk memperpanjang umur simpan produk UMKM agar kompetitif di pasar ekspor.
Kolaborasi lintas lembaga dinilai menjadi kunci. “Keselarasan visi antara BRIN, Kemendiktisaintek, para Rektor, IAEI, dan seluruh ekosistem ekonomi syariah akan menjadi harapan baru bagi masa depan ekonomi Islam di Indonesia,” kata Arif.
Di sisi lain, Arif menyoroti ketimpangan anggaran riset nasional dibanding negara dan universitas riset unggulan dunia. Menurutnya, rendahnya investasi riset berdampak langsung pada daya saing ekonomi Islam. Meski Indonesia berhasil naik dari peringkat 85 menjadi 55 dalam Global Innovation Index, Arief menilai posisi tersebut masih tertinggal dibanding Vietnam, Malaysia, Thailand, dan Singapura. “Target kita 49 pada 2029, tapi kita ingin masuk top 30,” ujarnya.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengatakan, bahwa angka yang dulu dianggap fantastis dan tidak realistis ini, kini disandingkan dengan realitas korporasi di era digital. Ia membandingkan valuasi perusahaan pembuat hardware AI, Nvidia, yang saat ini mencapai 4,9 triliun USD. Tantangan ini menuntut IAEI untuk menjadi lokomotif ekonomi Islam melalui inovasi dan percepatan riset.
“IAEI harus menjadi lokomotif ekonomi Islam. Kita harus buktikan Indonesia, sebagai negara Muslim terbesar, bisa jadi contoh ekonomi Islam yang menyejahterakan,” tegasnya.
Deputi Ekonomi dan Transformasi Digital Bappenas, Vivi Yulaswati menegaskan bahwa nilai ekonomi Islam keadilan, keseimbangan, dan kemaslahatan selaras dengan arah pembangunan RPJP 2025-2045 menuju visi Indonesia Maju dan trisula pembangunan nasional yaitu pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas SDM, dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, tuturnya.
Ia menekankan peran zakat, infak, wakaf, larangan riba, dan muamalah sebagai instrumen ekonomi yang bila dioptimalkan akan memperkuat sistem distribusi dan inklusi. Digitalisasi, tambahnya menjadi mesin penyetara, “Digitalisasi mempercepat integrasi keuangan syariah, industri halal, dan UMKM,” tutup Vivi. [arh]
