Ilustrasi - Birrul walidain sejalan dengan menjunjung tinggi kehormatan rumah tangga yang ditegakkan secara adil.
TRANSINDONESIA.co | Dalam banyak ruang kehidupan, kita kerap menyaksikan tarik menarik emosional yang dialami anak laki-laki saat dihadapkan pada dua sosok penting dalam hidupnya: ibu dan istri. Bukan sekadar dilema rumah tangga, tetapi ini adalah pertempuran batin yang menyentuh akar identitas laki-laki sebagai anak dan sebagai suami. Di antara dua cinta itu, kerap lahir ketegangan, bahkan konflik diam-diam, yang membentuk wajah relasi domestik kita hari ini.
Fenomena ini tidak asing dalam budaya masyarakat Indonesia. Dari dapur rumah tangga sampai layar sinetron, kita menyaksikan bagaimana seorang anak laki-laki bisa menjadi “tumpuan harapan” ibunya, sekaligus “tiang harapan” bagi istrinya. Tak sedikit konflik rumah tangga pecah bukan karena masalah ekonomi atau perselingkuhan, tetapi karena kegagalan seorang laki-laki menyeimbangkan peran di antara dua cinta: cinta kepada ibu yang melahirkannya dan cinta kepada istri yang menjadi mitra hidupnya.
Antara Fakta dan Budaya Patriarkal
Data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) menyebutkan bahwa sebagian besar konflik rumah tangga yang berujung pada perceraian dalam beberapa tahun terakhir melibatkan unsur ketidakharmonisan relasi keluarga besar, terutama antara mertua dan menantu. Di balik angka-angka itu, tersembunyi wajah anak laki-laki yang tak cukup matang secara emosional untuk menjadi jembatan yang adil antara dua perempuan penting dalam hidupnya.
Budaya patriarkal seringkali menempatkan anak laki-laki sebagai “penjaga kehormatan” keluarga asal, bahkan setelah dia berkeluarga. Banyak orang tua—terutama ibu—masih memandang bahwa cinta anak laki-laki harus tetap bertumpu padanya, dan istri adalah “orang baru” yang harus menyesuaikan diri. Sayangnya, anak laki-laki yang tak dibekali kecerdasan emosional dan spiritual kerap terjebak dalam konflik kesetiaan.
Padahal, Islam misalnya, telah mengajarkan dengan sangat indah tentang posisi ibu dan istri. Dalam hadis Nabi yang terkenal, “Ibumu, ibumu, ibumu, lalu ayahmu,” Rasulullah menegaskan betapa mulianya kedudukan ibu. Namun dalam Al-Qur’an (QS. Ar-Rum: 21), Allah juga menegaskan bahwa suami dan istri adalah pasangan yang harus saling memberi ketenangan (sakinah), kasih (mawaddah), dan rahmat.
Ketegasan Emosional Anak Laki-Laki
Masalahnya bukan pada ibu atau istri. Masalahnya adalah pada anak laki-laki yang belum dewasa dalam mengelola emosi dan tanggung jawab relasi. Anak laki-laki yang gagal menjadi suami yang berpihak pada keadilan dan kasih sayang, atau anak yang tak berani membatasi dominasi ibunya, sesungguhnya sedang mewariskan luka lintas generasi.
Dalam konteks ini, diperlukan apa yang disebut oleh para psikolog sebagai emotional boundaries—batas emosional yang sehat. Seorang suami yang matang akan tahu kapan harus menjadi anak yang berbakti, dan kapan harus menjadi suami yang tegas dan adil. Ia tidak menyatukan ruang emosional ibu dan istrinya dalam satu kotak, melainkan menempatkan mereka dalam ruang cinta yang berbeda tetapi setara dalam penghormatan.
Sayangnya, di banyak keluarga, pendidikan emosi anak laki-laki masih kering. Mereka diajarkan menjadi pemberani, pencari nafkah, dan pelindung fisik, tetapi tidak diajarkan menjadi pelindung batin: bagaimana bersikap lembut, mendengarkan, menengahi tanpa menyakiti, dan menumbuhkan kasih dengan wibawa.
Memutus Rantai Toxic Tradisi
Jika kita tidak membenahi cara mendidik anak laki-laki kita, maka pola ini akan terus berlangsung. Seorang ibu yang dulu merasa tersingkir oleh menantu perempuan, bisa menjadi mertua yang keras bagi istri anaknya kelak. Demikian pula seorang suami yang dulu gagal melindungi istri dari tekanan ibunya, bisa melahirkan anak laki-laki yang mencontoh kelemahan itu.
Pendidikan karakter harus mulai menyentuh kesadaran gender dan relasi yang adil. Sekolah, komunitas, bahkan lembaga keagamaan, perlu mengajarkan bagaimana menjadi laki-laki yang bertanggung jawab secara emosi, bukan hanya secara finansial.
Di titik inilah peran agama dan nilai-nilai universal menjadi sangat penting. Islam menempatkan birrul walidain (berbakti kepada orang tua) sebagai nilai utama, tetapi juga menjunjung tinggi kehormatan rumah tangga. Kuncinya ada pada adl (keadilan) dan rahmah (kasih sayang). Anak laki-laki yang adil tidak akan memihak membabi buta kepada ibu atau istri, melainkan berdiri di tengah sebagai penjaga keseimbangan cinta.
Menjadi Jembatan, Bukan Jaringan Tegangan Tinggi
Seorang anak laki-laki bukanlah “hak milik” siapa pun. Ia bukan hanya milik ibunya, bukan pula budak pasrah dari istrinya. Ia adalah manusia merdeka yang harus belajar menyeimbangkan cinta dengan ketegasan dan kasih sayang dengan keberanian bersikap. Hanya dengan kematangan itulah ia bisa menjadi jembatan yang menyambung dua generasi—bukan kabel tegangan tinggi yang memicu ledakan emosi di rumah tangga.
Dari sinilah pendidikan kita seharusnya bermula: membentuk anak laki-laki yang tidak sekadar kuat secara fisik, tetapi juga lembut dan tegas secara emosi. Karena di pundaknya, dua cinta menanti untuk dijaga dan dilestarikan dalam hidupnya.*
