Kajian Shubuh Pekanan "Empat Keberkahan Lisan" Mushola Al Farouq, Taman Juanda Kota Bekasi, Jawa Barat, Ahad (22/6/2025).
TRANSINDONESIA.co | Ahad (22/06/2025), mentari pagi belum menampakkan diri, namun Mushola Al-Farouq telah ramai oleh derap langkah jamaah yang bersatu dalam shaf. Selepas salat Subuh, Ustadz Arifin S.Pd.I menyapa para hadirin yang datang.
Mengacu pada karya klasik Hidayatul Bidayah karya Imam Al-Ghazali, Ustadz Arifin menguraikan empat fungsi utama lisan yang seharusnya menjadi kebiasaan seorang mukmin:
1. Berdzikir kepada Allah
Menyebut nama Allah, seperti Subhanallah, Alhamdulillah, dan Laa ilaaha illallah adalah cara untuk menjaga hati tetap hidup.
> “Zikir itu nutrisi hati. Tanpa zikir, hati kita akan mati dalam kesibukan dunia.”
2. Membaca Al-Qur’an
Setiap huruf dari Al-Qur’an adalah cahaya, katanya. Ia membacakan hadis:
> “Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang memberi syafa’at bagi para pembacanya pada hari kiamat.” (HR. Muslim)
3. Menyampaikan Kebaikan dan Ilmu
Satu nasihat yang tulus, bisa menjadi titik balik hidup seseorang. Lisan hendaknya menjadi saluran ilmu, bukan celaan.
> “Sampaikan dariku walau satu ayat.” (HR. Bukhari)
4. Menimba Ilmu (Thalabul ‘Ilm)
Dengan lisan pula kita bisa bertanya, berdiskusi, dan belajar. Rasulullah ﷺ menyebut pencari ilmu sebagai pejuang di jalan Allah.
Diam: Jalan Aman Bila Ragu
Di akhir kajian, Ustadz Arifin mengingatkan:
> “Jika tidak bisa berdzikir, membaca Qur’an, menyampaikan kebaikan, atau menimba ilmu — maka diam adalah bentuk ibadah.”
Sabda Nabi Muhammad ﷺ yang sangat dikenal:
> “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
Kajian pekanan pagi ini sebagai pengingat bahwa menjaga lisan adalah jalan menuju keberkahan hidup.
Referensi: Kitab Hidayatul Bidayah – Imam Al-Ghazali
