Penampakan pergerakan tanah kawasan zona berbahaya mencapai 18.757,15 meter persegi mengakibatkan 57 unit rumah rusak berat, 249 jiwa terdampak dan 115 jiwa masih bertahan di rumah masing-masing, 79 warga mengungsi di rumah kerabat, dan 55 jiwa mengungsi di Kantor Desa Pasir Munjul Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Sabtu (14/6/2025). Transindonesia.co / BPBD Purwakarta
TRANSINDONESIA.co | pergerakan tanah di mencapai 18.757,15 meter persegi di Desa Pasir Munjul, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, mengakibatkan ratusan jiwa terdampak dan 57 rumah rusak berat dan puluhan jiwa terpaksa mengungsi.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kejadian bencana pergerakan tanah memutus akses jalan Kampung Cigintung, Desa Pasir Munjul. Peristiwa pergerakan yang terjadi sejak bulan lalu masih terjadi hingga pada Sabtu (14/6/2025),
“Kaji cepat BPBD Kabupaten Purwakarta mendata 57 unit rumah rusak berat, tiga unit rumah rusak sedang, dan delapan unit rumah rusak ringan. Akibat pergerakan tanah, akses jalan kampung Cigintung, Desa Pasir Munjul terputus,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangan tertulisnya, Ahad (15/6/2025).
Menurutnya, luas lokasi terdampak pergerakan tanah di Desa Pasir Munjul diperkirakan mencapai 18.757,15 meter persegi. “Total warga terdampak mencapai 249 jiwa. Sebanyak 115 jiwa masih bertahan di rumah masing-masing, sementara 79 warga mengungsi di rumah kerabat, dan 55 jiwa mengungsi di Kantor Desa Pasir Munjul,” terang Muhari.
Disebutkannya, Tim Penanganan Darurat BNPB melakukan peninjauan ke lokasi terdampak pada Sabtu (14/6/2025, menyerahkan bantuan dukungan sumber daya darurat berupa paket sembako, matras, selimut, tenda keluarga, dan hygiene kit kepada warga terdampak
BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem pada periode musim kemarau saat ini. Antisipasi dini seperti membersihkan saluran air, memeriksa kekuatan tanggul, dan menyusun rencana evakuasi bersama keluarga sangat penting untuk mengurangi risiko bencana.
“Bagi masyarakat di wilayah terdampak, agar selalu mematuhi arahan petugas, menjaga kebersihan lingkungan, serta segera melaporkan kebutuhan mendesak kepada BPBD setempat,” kata Muhari.
Pewarta/Editor: Hermansyah P
