TRANSINDONESIA.co | Oleh: Triyo Supriyatno (Wakil Ketua PDM Kota Malang dan Guru Besar UIN Maliki Malang).
Setiap hari raya Iduladha tiba, ingatan kita akrab dengan dua hal: gema takbir yang membahana dan aroma daging kurban yang mengepul dari dapur-dapur rumah kaum Muslimin. Namun, ada satu bagian dari Iduladha yang sering luput dari perhatian: Hari Tasyrik. Tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah ini kerap dipandang sekadar sisa hari libur setelah hari raya. Padahal, dalam sejarah dan khazanah Islam, hari-hari ini memiliki makna yang amat kaya, baik secara historis maupun filosofis.
Istilah Tasyrik berasal dari tradisi masyarakat Arab pra-Islam. Saat itu, daging hasil sembelihan Iduladha dijemur di bawah terik matahari untuk diawetkan. Praktik ini mereka sebut tasyriq asy-syams, yakni menjemur di bawah matahari. Tradisi ini bukan semata soal makanan, melainkan strategi bertahan hidup di tengah cuaca gurun yang ekstrem, sekaligus menjadi simbol kesadaran kolektif masyarakat Arab akan pentingnya berbagi dan menyiapkan bekal untuk masa sulit.
Ketika Islam datang, Rasulullah ﷺ tidak sekadar mempertahankan tradisi ini, tetapi memberinya dimensi spiritual. Dalam hadis riwayat Muslim, beliau menyebut hari-hari Tasyrik sebagai Ayyamu Akli wa Syurbin wa Dzikir, yaitu hari makan, minum, dan memperbanyak dzikir kepada Allah. Artinya, hari-hari ini bukan hanya momen berpesta, tetapi saat untuk merawat kebersamaan dan merefleksikan nilai-nilai ketuhanan dalam ruang-ruang kemanusiaan.
Di masa Rasulullah ﷺ, daging kurban yang telah disembelih pada 10 Dzulhijjah dibagikan kepada fakir miskin, para musafir, dan kaum yang membutuhkan. Sebagiannya lagi dijemur di hari-hari Tasyrik sebagai bekal bagi mereka yang tengah menempuh perjalanan jauh atau menghadapi masa paceklik. Di sini, kita melihat bahwa spirit Tasyrik adalah tentang keberpihakan sosial, tentang bagaimana nikmat yang kita terima hari ini sepatutnya dibagikan, agar keberkahan tak berhenti di meja makan pribadi.
Lebih dari itu, Hari Tasyrik juga mengandung filosofi pengendalian diri. Meski disebut sebagai hari makan dan minum, Islam melarang berpuasa di hari ini bukan untuk mendorong kerakusan, tetapi agar manusia belajar menikmati karunia Allah dengan bijak, bersyukur atas rezeki yang ada, dan tak lupa berbagi dengan sesama. Larangan puasa di hari Tasyrik juga menjadi simbol bahwa dalam Islam, ritual ibadah tak hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi juga merawat hubungan sosial, menjaga harmoni masyarakat, dan mempererat silaturahmi.
Dalam konteks kekinian, spirit Tasyrik sepatutnya menjadi refleksi penting bagi kita. Di tengah zaman yang serba individualistis, di mana sekat antarindividu makin tebal dan kepedulian sosial sering kali terpinggirkan, hari-hari Tasyrik mengajarkan bahwa keberkahan hidup lahir dari kebersamaan. Daging kurban yang dibagikan bukan sekadar wujud sedekah, tetapi pesan kuat bahwa rezeki itu tidak pernah layak dinikmati sendiri. Ada hak orang lain dalam setiap rezeki yang kita terima.
Filosofi Tasyrik juga bisa kita lihat dalam rangkaian kisah Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS. Setelah ujian pengorbanan di Mina, Allah mengganti Ismail dengan seekor domba dari surga. Peristiwa itu menjadi titik tolak bahwa setelah pengorbanan, manusia tidak boleh kembali pada sifat egois. Sebaliknya, mereka harus menjadikan pengorbanan itu sebagai energi untuk berbagi, membangun solidaritas, dan menyuburkan rasa empati.
Ironisnya, di era modern ini, nilai-nilai seperti itu kerap terlupakan. Hari-hari Tasyrik sering kali hanya diisi dengan berlebih-lebihan dalam mengolah daging, berpesta tanpa makna, atau sekadar memperpanjang libur. Padahal, esensi sejatinya bukan di meja makan yang penuh, tetapi di hati yang terbuka untuk berbagi. Bukan sekadar di piring-piring yang terisi, tapi pada tangan-tangan yang tak segan memberi.
Karenanya, Hari Tasyrik sepatutnya dipahami sebagai perayaan nilai-nilai kemanusiaan. Ia adalah momentum untuk mengingat bahwa setiap nikmat yang kita terima, sesungguhnya adalah titipan yang harus ditebarkan. Ia adalah pengingat bahwa dalam setiap kenyang yang kita rasakan, masih ada perut-perut lapar yang menanti uluran tangan. Ia adalah pengingat bahwa dalam setiap rezeki yang kita nikmati, ada hak orang lain yang harus disalurkan.
Di hari-hari Tasyrik inilah seharusnya kita lebih banyak berdzikir, tak hanya di lisan, tetapi juga di tindakan. Dzikir yang mewujud dalam senyum, dalam sedekah, dalam sapaan hangat kepada tetangga yang jarang kita sapa. Sebab sejatinya, ketakwaan bukan hanya diukur dari jumlah ibadah ritual, tapi juga dari seberapa luas manfaat kita bagi orang lain.
Akhirnya, Tasyrik bukan sekadar hari sisa setelah Iduladha. Ia adalah hari merawat nurani, menajamkan kepedulian, dan menyegarkan kembali spirit kemanusiaan di tengah zaman yang makin sibuk dengan ego masing-masing. Saatnya kita jadikan hari-hari ini bukan sekadar tentang daging, tapi tentang hati. Bukan sekadar tentang pesta, tapi tentang makna bagi semesta.
