Ilustrasi - Seni dan Refleksi Kehidupan. CDL
TRABSINDONESIA.co | Hidup di dalam konteks spiritual sering dianalogikan sebagai anugerah yang penuh harapan. Namun kadang kala apa yang menjadi anugerah dikatakannya begitu saja dibiarkannya berlalu tanpa makna, tanpa kesan.
Hidup dan kehidupan di segala sisi dalam baik buruknya, nyaman dan kesemrawutannya dapat di maknai sebagai seni? Tentu saja, seni itu jiwa, jiwa itu kemanusiaan, segala sesuatu yang ada manusia dalam hidup kehidupannya di situ ada suara jiwa.
Pemahaman seni memang kadang di stratifikasi bertingkat tingkat. Sejatinya prinsip seni merupakan kepekaan dan kemampuan untuk menyentuh dan menggetarkan jiwa / manusia untuk menyuarakan suara jiwanya dalam berbagai ekspresi bisa juga untuk bertahan hidup tumbuh dan berkembang. Kalau meminjam kata pelukis Widayat ada sesuatu yang “greng”.
Seni tidak identik dengan keindahan, tidak semua seni indah, ada seni yang memusingkan, membuat dan menimbulkan perasaan-perasaan tertentu. Seni kejujuran tentu bukan pula untuk mematut-matut sesuatu. Seni merupakan ranah pemaknaan atas hidup dan pengalaman atas hidup dalam kehidupan. Seni memiliki suatu getaran yang membawa penikmatnya merasakan sesuatu apa yang diungkapkan/ disampaikan dalam karya itu. Bisa mengingatkan, membawa sesuatu yang jauh lebih penting dari sekedar keindahan. Seni bisa merasuk beberapa dimensi, termasuk juga imajinasi.
Memahami seni tidak hanya dengan teori-teori saja, melainkan pada kompleksitas pengalaman/ makna dari pengalaman. Seni berkaitan dengan rasa yang dialami/ dihayati secara konkrit, sebagian besarnya adalah pra reflektif, bukan yang di abstraksikan/di idealkan. Dunia real adalah dunia kongkrit itulah yang dimaknai dalam seni.
Terkadang juga merupakan habit dan menyatu sehingga tidak/ diluar dari apa yang terpikir, semua saling berhubungan, dunia yang dihayati/dijalani yang tidak dipikirkan dari detik ke detik kompleks dan ambigu. Ini berbeda dengan dunia ilmiah yang sudah diabstraksi. Seni bukanlah sesuatu yang sederhana seperti baik/ buruk, indah/jelek, bukan sebatas hitam putih.
Maka kalau ditanya bagaimana memahami, menghayati dan mengapresiasi seni? Tidak ada jawaban yang tepat, dalam bahasa jawa dapat dikatakan ” yo ngono kui”.
Mengapa demikian? Walaupun kita mampu merasionalisasi namun bisa juga berbeda dalam rasa. Kadang tatkala mendiskripsikan malah mengkebiri, membatasi dan jadinya kacau malah tidak menjadi seni lagi. Hanya ikut-ikutan, agar dibilang wah, mencari pamrih, mencari keuntungan dan sebagainya. Seni urusan hati, hidup dan mati menjadi panggilan jiwa untuk bisa dinikmati, diekspresikan, syukur-syukur bisa menginspirasi.
Mampu menikmati seni adalah suatu anugerah? Kalau iya jawabannya karena memiliki kemampuan untuk dapat peka dan merasakan apa yang dilihat, didengar dan dirasakan tidak sebatas pada panca indera namun sampai merasuk dalam hati. Itu salah satu yang dipelajari dalam estetika. Mengapresiasi seni pun suatu keunggulan tersendiri bagi manusia untuk dapat memahami apa yang dilakukan atau atas apa yang ada dalam kehidupan sehari-hari pada dirinya maupun lingkungannya.
Dalam hidup dan kehidupan manusia dapat mempelajari logika, etika dan estetika. Logika membuat manusia berpikir secara rasional, sistematis, visioner dan mampu mempersiapkan dan menemukan hal-hal baru untuk kehidupannya.
Etika diperlukan manusia untuk menata moralitas dalam mewujudkan dan memelihara keteraturan-keteraturan sosial/ menangani masalah-masalah moral yang dihadapi dalam hidup dan kehidupan. Estetika merupakan suatu refleksi atas kehidupan manusia dalam berbagai karya seni yang menjadikan hidup semakin dinamis dan bisa dinikmati dalam memanusiakan manusia.
Estetika/ seni bukan sebatas yang indah-indah/yang rapi/ yang tertata melainkan kedalaman penghayatan dan perefleksian atas hidup dan kehidupan sebagai bentuk peradaban manusia dalam mencari dan menemukan jati dirinya. Memang banyak karya seni terutama pada seni kontemporer yang bukan semata-mata memindahkan benda yang ditirunya dalam bentuk/ karya ciptaanya. Seni terwujud sebagai ungkapan jiwa sebagai refleksi atas penghayatan hidup dan kehidupannya. Yang juga merupakan suatu bentuk kepekaan dan kepeduliannya kepada hidup dan kehidupan yang dijalaninya. Pelukis S Sudjojono mengatakan seni itu jiwa yang nampak.
Dari jiwa yang nampak tadi dapat memberikan sesuatu yang dihayati, dirasakan dan diungkapkan atas sesuatu. Seni bukan semata-mata pemujaan/penyanjung nyanjungan sesuatu, melainkan ada perenungan/ tantangan yang mendalam atas suatu kehidupan, karena seni pemaknaan/penghayatan atas hidup dan kehidupan.
Seni yang tinggi adalah mampu menampilkan kompleksitas, ambigusitas dan berbagai dimensi yang mendalam dan mampu menghanyutkan /membawa perasaan.
Seni adalah bagian dari hidup dan kehidupan manusia. Manusia menghidupkan kehidupannya melalui seni. Dengan seni hidupnya semakin bermakna, semakin beragam. Bagi para pemimpin perlu pemahaman tentang seni dan budaya sehingga dalam melaksanakan tugasnya untuk memanusiakan manusia, mengangkat harkat dan martabat manusia semakin peka dan peduli.
Keberhasilan tugas bagi seorang pemimpin salah satunya adalah mampu memanusiakan manusia. Kepekaan dan kepedulian akan kehidupan diwujudkan melalui kecepatan merespon, pemecahan masalah, menjembatani, menangani potensi-potensi yang dapat mengancam, menghambat, merusak, bahkan mematikan kehidupan. Memahami kehidupan manusia diperlukan hati nurani untuk bisa berempati.
Melatih hati nurani yang berempati salah satunya melalui seni. Tatkala saling berkomunikasi, saling mengunjungi antar warga, bahkan dengan berbagai kegiatan kemanusiaan. Hingga penegakkan hukumnya sekalipun dapat diterapkan dengan elegan, manusiawi.
Membangun kemitraan, membangun kepercayaan tatkala seni menjadi pilarnya maka para punggawa penyelenggara negara dan pemangku kepentingan lainya akan mampu menunjukan: ketulusannya, kejujurannya, empatinya, kebenaranya, penghormatannya akan manusia. Karena seni dasarnya adalah hati yang tulus, hati yang jujur, empati, menyuarakan kebenaran. Itu juga bagian membangun peradaban.
Disinilah ditunjukan juga membangun keadilan. Hukum yang dibuatpun menunjukan hukum yang adil, humanis yang dapat mengangkat harkat dan martabat manusia.
Dengan seni hati dan otak kanan terasah kepekaannya, disinilah perlunya untuk kesadaran, kepedulian dan meminimalisir niat-niat jahat, kalaupun terpaksa dilakukan masih ada rasa malu dan tidak lagi membangga banggakan yang keliru.
Suatu bangsa yang mampu mengapresiasi seni dan karya seni anak bangsanya akan lebih peka dan peduli akan manusia dan kemanusiaan. Seni merupakan suatu yang bisa dinikmati dalam hidup dan kehidupan manusia. Keteraturan sosial misalnya, ini merupakan seni dalam menata, menumbuhkembangkannya.
Hidup dan kehidupan memang akan semakin hidup. Kemampuan mengapresiasi seni merupakan hasil dari edukasi, kontemplasi yang diajarkan dalam kelas, alam,lingkungan dan kebudayaan.
Seni hidup dalam lingkungan manusia, dan manusialah yang menghidupkan seni itu. Seni yang telah membudaya akan menjadi habitus hidup dan menjadi kehidupan manusia.
Karya seni akan sangat dipengaruhi tingkat kepekaan, kedalaman dalam merefleksikan atas hidup dan kehidupan termasuk cara mengapresiasinya. Batu-batu berlian sebelum ditemukan dan ditambang di daerah asalnya dianggap sebagai kelereng dan bahan mainan anak-anak saja.
Karya seni yang diakui dan diterima dalam balai lelang/ tempat-tempat lelang internasional yang memiliki nilai ekonomis dan apresiasinyapun sangat tinggi akan dihargai dengan nilai tinggi dan pengakuan luas biasa hebatnya.
Batu bacan yang dipakai sebagai gift kepada presiden obama saat berkunjung ke Indonesia, nilainya melonjak dan diburu banyak orang. Padahal dahulu hanya sebagai batu fondasi atau batu-batu akik biasa. Lagi-lagi manusia yang menentukan tingkat apresiasi sebuah karya seni. Seni bagian dari hidup dan kehidupan yang sejak awal manusia ada sebenarnya sudah berkesenian, hanya tingkat apresiasi yang berbeda.
Seni sebagai upaya membuat orang tertawa dalam parodi / kritik atas perkeliruan dan keanehan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan
Kembang turi yo mas tibo lemah, mlebu omah ojo karo mlayu, ati seneng yo mas ojo susah, timbang susah ayo ngguyu, ayo ngguyu ….ayo ngguyu .. Yen ngguyu ojo seru-seru ….
Masih ingat lagu keroncong ayo ngguyu (Mari tertawa), lagu ini merupakan lagu pelipur lara, mengajak kita semua tertawa melepaskan situasi yang menyedihkan/ membuat susah hati. Seni membuat hati gembira dan bisa menghibur diri atas luka batin dan kekecewaan-kekecewaan yang terjadi. Seni mengajarkan kelembutan mencari solusi tanpa kekerasan atau anarkisme. Semi juga merupakan penyaluran atas duka lara menghadapi masalah-masalah sosial yang menjengkelkan bahkan memuakan.
Seni juga menjadi harapan bagi rakyat untuk dapat mencintai dan menikmati situasi yang ada. Tertawa menjadi bagian dari kehidupan sosial yang terus harus dijaga dan menjadi pilihan. Banyak acara humor menjadi pelipur lara dan penghibur kedukaan masyarakat, mulai stand ups commedy, ludariuk, goro-goro, dagelan, monolog sampai kritik-kritik sosial politik, semuanya menertawakan dan mengajak tertawa.
Mengapa orang tertawa atau bisa menertawakan? Itu terjadi karena :
1.Ada yang tidak benar/ ada kekeliruan yang dianggap benar, 2.Ada yang menjadi bahan bulan-bulanan/ sebagai kambing hitam/ dijadikan hujat-hujatan,
3.Ada pejabat, kebijakan pejabat yang aneh dan lucu yang dapat diparodikan,
4.Ada plesetan-plesetan atas ketololan-ketololan yang dipamerkan baik eksekutif, yudikatif maupun legislatif,
5.Perilaku masyarakat yang menyimpang,
6.Pemikiran, perkataan, perbuatan yang lucu atau menimbulkan gelak tawa,
7.Pemuka-pemuka yang semestinya jadi tuntunan namun malah sebaliknya jadi tontonan.
Perilaku-perilaku para punggawa penyelenggara negara yang semestinya menjadi tuntunan sekarang malah menjadi tontonan dan bahan ejek-ejekan.
Kebijakan-kebijakannya yang menyengsarakan dan membuat malu, marah, sedih dan menimbulkan sikap kritis/ protes melalui kesenian dan parodi yang menertawakan, menghilangkan kebencian dengan ayo ngguyu tetapi ojo seru-seru karena kalau seru-seru bisa tersinggung dan nesu.
Seni memang kompleks siapa boleh dan berhak menciptakan, merasakan, mengapresiasi dengan caranya sendiri, memang menjadi yo ngono kui.
Seni harus dimaknai, dijadikan perbincangan, dan menjadi isu-isu dimana saja agar mampu menjadi ikon.
Sesuatu tanpa dimaknai, tidak akan menjadi apa-apa, semua akan pergi hilang berlalu ditelan waktu.
Sebuah batu tanpa dimaknai ia tidak akan diburu, terserak saja tanpa ada yang peduli. Alam tanpa dimaknai akan juga menguap seiring berubahnya jaman. Bahkan manusia tatkala tidak dimaknai maka iapun akan tidak menjadi apa-apa dan akan hilang begitu saja. Logika akan membantu manusia untuk menjalani hidup dan kehidupanya menjadi mudah, etika menjadikan manusia semakin manusiawi dan mampu memanusiakan manusia lainya. Estetika membuat hidup dan kehidupan menjadi indah dan penuh makna, yang akan dikenang sepanjang masa.
Seni sering diabaikan atau dianggap sebagai pekerjaan tukang/ urusan seniman saja. Bahkan yang berbeda/ out of the box dibilang sebagai senewen (aneh/gila). Membuat sesuatu menjadi bermakna dalam hidup dan kehidupan bukan urusan seniman saja. Tanpa dukungan dari para penguasa, politikus, ilmuwan, para pekerja, warga masyarakat luas, seni seolah akan mati. Tak lagi memberi aura indah dan tak juga menjadikan sesuatu berharga, tak juga bermakna.
Seni bisa dipolitisir, dimainkan bahkan disalah gunakan. Disinilah peran para penguasa untuk dapat membantu para warganya menjadi seniman yang terus mencipta, berkarya, dan diapresiasi sehingga untuk dapat hidup, tumbuh dan berkembang. Melalui pengemasan, pemaknaan dan pemasaran. Uang memang tidak penting tapi pokok. Membahas uang tidak elok, tetapi tanpa uang tidak akan menjadi elok. Begitulah seni yang ngono kui. (Chrysnanda DL)
