Ilustrasi - Mudik Lebaran 2025. Transindonesia.co /Dokumentasi
TRANSINDONESIIA.co | Kupacu sepeda motorku pagi ini, membelah jalanan yang biasanya sesak. Simpang Pancoran yang kerap menjadi ladang kesabaran kini tampak lengang. Angin pagi menyelinap di sela jaket, membawa aroma tanah yang semalam disiram gerimis. Waktu tempuh dari rumah ke kantor yang biasanya 45 menit kini hanya 30 menit. Alhamdulillah.
Di parkiran basement B2, aku turun dari motor, merapikan jaket, lalu menyapa satpam penjaga pintu parkir. Sosoknya berdiri tegak seperti biasa, mata tajam mengamati kendaraan keluar-masuk.
“Assalamu’alaikum, Pak. Apa kabar? Oh ya, mudik, Pak?” tanyaku, sambil menjabat tangannya erat.
Ia tersenyum tipis, menggeleng pelan. “Belum, Mas. Masih tugas sampai akhir Ramadan.”
Ah, Ramadan memang tak sama bagi setiap orang. Ada yang bergegas pulang, ada yang tetap bertahan demi tugas, demi sesuap nasi, demi keluarga di kampung yang menanti kiriman uang meski tak bisa berjumpa.
Aku melangkah menuju lift, menekan tombol. Di depan pintu lift yang mulai terbuka, kulihat seorang pegawai wanita, wajahnya lelah tapi tetap menyunggingkan senyum.
“Assalamu’alaikum,” sapaku.
“Wa’alaikumussalam,” jawabnya, sambil masuk ke dalam lift bersamaku.
“Apa kabar? Mudik kah?” tanyaku lagi, pertanyaan yang sama, karena mudik selalu jadi topik yang tak habis dibicarakan menjelang lebaran.
“InsyaAllah,” jawabnya lirih.
Ia bercerita, minggu depan pegawai mulai mudik. Kantor akan sepi. Ada yang ambil cuti, ada yang bekerja dari rumah. Jalanan akan semakin lengang, tetapi stasiun, terminal, dan bandara justru semakin padat. Seperti sungai yang mengalir deras, orang-orang berbondong-bondong mencari muara: rumah.
Mudik. Sebuah perjalanan yang bukan sekadar perpindahan tubuh, tetapi juga perjalanan rindu. Ada ibu yang menanti dengan senyum dan peluk hangat. Ada ayah yang diam-diam menyiapkan cerita di serambi rumah. Ada saudara, keponakan, tetangga lama, yang semuanya menunggu di sana, di tempat yang disebut kampung halaman.
Tapi tak semua punya kesempatan untuk mudik. Ada yang masih berjaga di gerbang kantor. Ada yang tetap mengais rezeki di kota yang mendadak sepi. Ada yang hanya bisa mengirim salam melalui layar ponsel, memandangi wajah orang tua yang semakin menua di balik sinyal yang kadang tersendat.
Dan aku pun sadar, mudik bukan sekadar perjalanan pulang, tetapi perjalanan hati. Mereka yang tak bisa pulang, bukan berarti kehilangan kampung halaman. Sebab, rumah sejati ada dalam doa, dalam kenangan, dalam rindu yang selalu hidup, meski tubuh tak bisa sampai di sana. (Din&Ai)





