Ilustrasi
TRANSINDONESIA.co | Kesehatan mental (mental health) merupakan aspek krusial dalam kehidupan setiap orang, termasuk diantaranya mahasiswa, yang berada pada fase transisi dari remaja akhir menuju dewasa awal. Pada tahap ini, kebanyakan mahasiswa seringkali menghadapi tekanan akademik, sosial, maupun emosional yang signifikan.
Penelitian di sejumlah kampus di Indonesia menunjukkan tingkat depresi mahasiswa berkisar antara 41,5% hingga 54,7%. Artinya, hampir sebagian besar mahasiswa mengalami gejala depresi, sekitar 3,5 juta hingga 4,7 juta orang, dan angka ini jauh lebih tinggi dari ratarata global.
Begitu pun dengan hasil skrining yang dilakukan Kementerian Kesehatan RI gejala depresi pada mahasiswa program pendidikan dokter spesialis atau PPDS, tanggal 16 April 2024, yang menunjukkan bahwa sekitar 22,4 persen mahasiswa terdeteksi mengalami gejala depresi dan sekitar 3,3 persen memiliki ide bunuh diri/melukai diri sendiri.
Baru-baru ini, telah terjadi insiden tragis di Kota Bandung, seperti kasus bunuh diri mahasiswa di Mall Paris Van Java (PVJ) dan Gedung Gymnasium Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), yang menyoroti akan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental di kalangan mahasiswa. Kasus ini tentunya menjadi trigger warning bahwa kesehatan mental tidak boleh diabaikan dan perlu mendapat perhatian lebih serius dari berbagai pihak.
Mahasiswa dan Kesehatan Mental: Mengapa Harus Peduli?
World Health Organization (WHO) mendefinisikan kesehatan mental sebagai keadaan sejahtera di mana setiap individu bisa mewujudkan potensi mereka sendiri. Artinya, mereka dapat mengatasi tekanan kehidupan secara normal, dapat berfungsi secara produktif dan bermanfaat, serta mampu memberikan kontribusi kepada komunitas mereka.
Namun, nyatanya sering terjadi peristiwa yang kemudian berdampak pada rasa trauma akibat kekerasan, tekanan berlebih, ataupun stres dalam jangka panjang.
Jika kesehatan mental terganggu, maka timbul gangguan mental atau penyakit mental.
Gangguan mental dapat mengubah cara seseorang dalam menangani stres, berinteraksi dengan orang lain, membuat pilihan, menentukan keputusan, dan bahkan memicu hasrat untuk menyakiti diri sendiri.
Jika terus-menerus dibiarkan, tentu hal ini akan sangat membahayakan apalagi di kalangan para pelajar dan mahasiswa yang seharusnya bisa mengenyam pendidikan dengan akal yang sehat demi masa depan yang lebih baik.
Mahasiswa adalah kelompok yang rentan mengalami tekanan psikologis akibat berbagai faktor seperti tuntutan akademik, tekanan sosial, dan ketidakpastian masa depan.
Menurut WHO, kesehatan mental yang baik memungkinkan individu untuk mengatasi tekanan hidup, bekerja secara produktif, dan berkontribusi kepada komunitasnya. Namun, banyak mahasiswa yang masih enggan untuk berani bersuara tentang masalah mental mereka karena stigma yang melekat di masyarakat.
Beberapa alasan mengapa mahasiswa harus peduli terhadap kesehatan mentalnya adalah untuk:
1. Meningkatkan Performa Akademik
Kesehatan mental yang stabil berkontribusi pada fokus dan konsentrasi yang lebih baik dalam belajar, sehingga berdampak positif pada prestasi akademik.
2. Mendukung Kehidupan Sosial yang Sehat
Kesehatan mental yang baik memungkinkan mahasiswa untuk menjalin hubungan sosial yang positif dan mendukung, yang dapat membantu mereka menghadapi tantangan hidup.
3. Mencegah Gangguan Psikologis
Dengan mengenali dan mengelola stres sejak dini, mahasiswa dapat mencegah berkembangnya gangguan mental yang lebih serius seperti depresi dan kecemasan.
4. Meningkatkan Kualitas Hidup
Mahasiswa yang sehat secara mental cenderung lebih mampu menikmati hidup dan menghadapi tantangan dengan cara yang lebih positif.
Dalam konteks psikologi perkembangan, teori Erik Erikson tentang tahap perkembangan psikososial menyatakan bahwa individu pada usia mahasiswa berada pada tahap Intimacy vs. Isolation, di mana mereka berusaha membentuk hubungan yang erat dengan orang lain.
Kegagalan dalam tahap ini dapat menyebabkan isolasi sosial dan masalah kesehatan mental, seperti kesepian dan depresi.
Selain itu, teori stres dan koping dari Lazarus dan Folkman menjelaskan bahwa individu menghadapi stres dengan berbagai strategi untuk mengatasinya, baik problem-focused coping (berfokus pada penyelesaian masalah) maupun emotion-focused coping (berfokus pada pengelolaan emosi).
Mahasiswa yang tidak memiliki coping mechanism yang baik cenderung mengalami kesulitan dalam menghadapi tekanan akademik dan sosial, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kesehatan mental mereka.
Fenomena Bunuh Diri di Kalangan Mahasiswa
Kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa menunjukkan adanya masalah kesehatan mental yang serius. Sebagai contoh, seorang mahasiswa UPI berinisial A (20 tahun) ditemukan tewas setelah melompat dari lantai 11 parkiran Mall PVJ pada Januari 2025.
Selain itu, pada Desember 2024, mahasiswi UPI berinisial AM (21 tahun) ditemukan tewas di Gedung Gymnasium UPI, diduga akibat bunuh diri.
Kejadian-kejadian ini menyoroti pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental mahasiswa, serta perlunya langkah preventif yang nyata.
Tekanan akademik yang tinggi, ekspektasi keluarga, serta dinamika sosial di kampus sering kali menjadi faktor pemicu stres yang berlebihan.
Tanpa adanya dukungan yang memadai, mahasiswa bisa merasa terisolasi dan kehilangan harapan, yang dapat berujung pada tindakan bunuh diri sebagai jalan keluar terakhir.
Upaya Preventif LKMI HMI Cabang Bandung
Menanggapi fenomena tersebut, Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam (LKMI) HMI Cabang Bandung mengadakan kegiatan bertajuk “Satya Bhayanaka Vol. II: Tantangan Menjaga
Kesehatan Mental dalam Menghadapi Era Disrupsi” pada Kamis (3/1/2025) lalu, di Graha HMI Bandung.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental di kalangan mahasiswa dan masyarakat umum.
Dalam kegiatan tersebut, LKMI HMI Cabang Bandung menyelenggarakan seminar dengan menghadirkan sejumlah narasumber dari akademisi, psikolog dan pemerintah, dalam hal ini Dinas Kesehatan Kota Bandung, untuk membahas tantangan kesehatan mental di era digital.
Selain itu, LKMI HMI Cabang Bandung juga meresmikan Posko Kesehatan dan menyediakan fasilitas layanan tes kesehatan mental gratis.
Langkah ini diharapkan dapat membantu mahasiswa maupun masyarakat umum dalam mendeteksi dini masalah kesehatan mental dan mendapatkan bantuan yang diperlukan.
Kesimpulan
Kesehatan mental adalah komponen vital dalam kehidupan mahasiswa yang memengaruhi prestasi akademik dan kualitas hidup secara keseluruhan.
Fenomena bunuh diri di kalangan mahasiswa menunjukkan perlunya perhatian dan intervensi yang tepat. Inisiatif seperti yang dilakukan oleh LKMI HMI Cabang Bandung merupakan langkah positif dalam mendukung kesehatan mental mahasiswa.
Tentu diperlukan kerjasama antara institusi pendidikan, organisasi mahasiswa, dan pihak terkait lainnya untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental bagi mahasiswa.*
Rafid Shidqi (Deprtment Infokom HMI Cabang Bandung)






