Tempat penampungan pengungsi warga Palestina di kota Rafah, Jalur Gaza selatan (8/12/2023). ANTARA/Xinhua/Rizek Abdeljawad/aa.
TRANSINDONESIA.co | Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mengatakan rencana serangan militer Israel di Rafah, Jalur Gaza selatan adalah bencana baru. Padahal selama ini jutaan penduduk Gaza sudah alami kekurangan makanan dan air bersih.
“Di Rafah, Gaza selatan, ada 1,4 juta penduduk dalam radius puluhan kilometer yang tinggal di penampungan sementara yang terbuat dari plastik. Saya nyaris tidak dapat berkata-kata,” kata Komisaris Jenderal UNRWA Phillippe Lazzarini seperti dilansir Reuters, Ahad (11/2/2024).
Sebelumnya Otoritas Penyiaran resmi Israel menyatakan bahwa operasi militer di Rafah akan dimulai. Setelah selesainya evakuasi luas warga sipil dari kota dan pinggirannya.
Di sisi lain kantor media pemerintah Gaza memperingatkan akan adanya bencana dan pembantaian global. Jika terjadi invasi Israel ke provinsi Rafah.
Rafah telah menjadi tempat pengungsian terakhir bagi mereka yang menyelamatkan diri dari wilayah yang hancur, menaungi lebih dari 1,4 juta warga Palestina. Termasuk 1,3 juta pengungsi dari wilayah lain.
Sejak dimulainya operasi darat yang diluncurkan Israel di Jalur Gaza pada 27 Oktober 2023 para penghuni telah dipaksa berpindah dari utara menuju selatan. Di mana dengan dalih bahwa wilayah tersebut merupakan zona aman, namun tidak luput dari pengeboman rumah, mobil, dan rumah sakit.[rri/ant]





