Pengunjuk rasa membawa poster gencatan senjata dalam aksi pro-Palestina di Boston, Amerika Serikat (Foto: Unsplash)
TRANSINDONESIA.co | Kesepakatan pelepasan sandera Israel yang ditahan Hamas akan mencakup jeda pertempuran selama 35 hari. Imbalannya, Israel akan menerima 35 sandera yang kini berada di tangan Hamas.
Garis besar kesepakatan tersebut disampaikan pimpinan agen mata-mata Israel, Mossad, David Barnea, yang dikutip media Israel, Kamis (1/2/2024). Tahap pertama kesepakatan yang diusulkan adalah pembebasan sandera perempuan, sakit, terluka, dan lanjut usia.
Channel 12 Israel melaporkan jeda tersebut dapat diperpanjang selama seminggu lagi. Menurut stasiun televisi tersebut, perpanjangan itu untuk memungkinkan dilakukannya pembicaraan mengenai pembebasan tahap kedua.
Pembebasan tahapan kedua akan termasuk pembebasan anggota pasukan pertahanan sipil dan sandera pria. Meski demikian, masih belum jelas berapa banyak tahanan Palestina yang akan dibebaskan sebagai imbalannya.
Menurut media tersebut, Israel ingin melobi pembebasan pelaku kejahatan ringan. Sementara, Hamas bersikeras agar mereka yang melakukan kejahatan berat juga ikut dibebaskan.
Menurut Yedioth Ahronoth, Hamas menegaskan Marwan Barghouti, Ahmed Saadat, dan Abdullah Barghouti termasuk daftar tahanan yang akan dibebaskan. Hamas diyakini menahan hampir 136 warga Israel setelah serangan lintas batas pada 7 Oktober 2023.
Pada Selasa (30/1/2024), ketua Hamas Ismail Haniyeh mengonfirmasi kelompoknya sedang mempelajari proposal jeda pertempuran dari Israel.
Sumber: Anadolu Agency, TASS





