Lautan bendera Palestina yang dikibarkan massa di seantero dan sekeliling lapangan Freedom Plaza, yang terletak satu blok dari Gedung Putih pada Sabtu (13/1/2024). (Foto: VOA/Rivan Dwiastono)
TRANSINDONESIA.co | Ribuan orang berduyun-duyun menuju Freedom Plaza di pusat kota Washington, D.C., Sabtu (13/1) siang, untuk menuntut gencatan senjata di Gaza dan penghentian aliran bantuan Amerika Serikat (AS) untuk Israel. Mereka ingin Pemerintah AS mengambil tindakan untuk menghentikan serangan Israel yang telah menewaskan sedikitnya 23.000 penduduk Gaza, sebagian besarnya warga sipil, menurut kementerian kesehatan Hamas.
“Israel melakukan genosida, membunuh rakyat Palestina dengan uang pajak AS. Semua bom, semua uang yang diberikan AS kepada Israel adalah uang rakyat biasa,” kata Kathy Boylan, pengunjuk rasa asal Washington.
Perempuan lanjut usia yang mengaku pernah ke Tepi Barat dua dekade lalu untuk menunjukkan dukungannya kepada warga Palestina itu tidak rela uang pajak yang ia berikan kepada pemerintah justru digunakan untuk membantu Israel membombardir Jalur Gaza.
“Saya mengajak semua orang untuk menolak membayar satu sen pun kepada pemerintah federal AS yang membuat kita terlibat genosida,” ungkapnya.
Berbeda dengan Kathy yang sudah berulang kali berdemonstrasi di ibu kota AS, Sabtu itu adalah pertama kalinya Ayesha Rizvi turun ke jalan di Washington. Ia datang bersama suami dan putrinya yang berusia tiga tahun di tengah cuaca berangin D.C. dengan suhu sekitar tujuh derajat Celcius.
“Ketika perang Irak terjadi, kami masih terlalu muda untuk benar-benar memahami jumlah korban yang jatuh. Sedangkan kini, ketika saya akhirnya sudah cukup dewasa, saya melihat ketidakadilan yang sama terjadi lagi,” ujar Ayesha, perempuan keturunan Pakistan yang lahir, besar dan kini tinggal di New Jersey.
Media sosial, menurutnya, berperan besar menggugah masyarakat untuk mengambil sikap terkait isu Gaza – juga sikap pemerintah, pada gilirannya.
“Sekarang Anda bisa melihat di TikTok, YouTube, ada banyak sekali video yang bisa ditonton tentang rumah sakit yang dibom, anak-anak yang tidak diberi morfin dengan wajah yang terbakar. Tidak mungkin Anda bisa menyembunyikan itu semua,” imbuhnya, “Fakta bahwa seluruh dunia sedang mengawasi membuat mereka berubah sikap.” [voa]







