Indonesia Berdakwah

Selamatkan Saudaramu!

Sepuluh santri Pondok Pesantren Al-Marhamah Kota Bekasi berolahraga dan bermain game "Selamatkan Saudaramu!" di kawasan Grand Wisata, Ahad pagi (19/09/2021). [Transindonesia.co /Aris Yulianto]

TRANSINDONESIA.CO | Bersama sepuluh santri Pondok Pesantren Al-Marhamah Kota Bekasi, mengajak mereka berolahraga di kawasan Grand Wisata pada Ahad pagi (19/09/2021). Mereka sudah menginjak Sekolah Menengah Pertaman (SMP), rentang usia 12 tahun sampai 16 tahun.

Setelah melakukan pemanasan, saya mengajak santri bermain game (permainan), permainannya cukup sederhana dan tidak memerlukan sarana/media, mungkin hanya membutuhkan waktu 30 menit . Permainan (game) ini dinamakan “Selamatkan Saudaramu!”

Prosesnya, kesepuluah anak santri dibagi menjadi dua, satu kelompok terdiri dari 5 orang. Tiap kelompok ditunjuk sebagai ketua dan diberi pengarahan.

Sang Ketua harus menyelamatkan anggota kelompoknya. Anggota kelompok ini diibaratkan anggota keluarga terdekat sendiri (ayah, ibu, kakak dan adik).

Situasinya disimulasikan sebagai berikut, para anggota kelompok terjebak dalam hutan belantara yang terbakar, hutan terbakar sedemikian cepat sehingga sang ketua harus bisa menyelamatkan kelompoknya.

Tindakan harus dilakukan secepatnya, yaitu bawa ke tempat aman sejauh 50 meter, dan cara paling mudah adalah dengan menggendong untuk penyelamatan. Ini tantangan yang pertama

Tantangan  yang kedua, anggota kelompok dalam kondisi lumpuh, bisu dan tuli. Tetapi ada aturannya, ketika sudah berjalan sekitar 50 meter dan menginjak garis finish, anggota yang digendong menjadi normal, tidak lumpuh, tidak bisu dan tidak tuli, serta bisa sebagai tim penyelamat yang siap menggendong menyelamatkan anggota yang lain.

Kelompok pertama menjadi juara dengan waktu penyelamatan yang lebih cepat dari kelompok kedua.

Setelah sesi permaianan selesai, sambil menikmati sarapan nasi uduk. Saya menanyakan kepada mereka;
“Pelajaran apa atau hikmah apa dari permaianan ini?”

Jawabannya pun beragam, “Berlatih kekompakan” kata Gibran. “Berlatih kekuatan” kata Fikri. “Saling Menyelamatkan” kata Tedy.

“Yak Betul” timpalku. Saya bertanya lagi “Kesulitan apa yang dihadapi dalam permainan tadi?

Gibran balik bertanya, “Bagaimana kalau ada anggota kelompok yang tidak mau diselamatkan, mau diberi penjelasan orangnya tuli?”

Pertanyaan ini sangat menarik, saya mencoba menjawabnya, “Dalam permainan tadi korban digambarkan sebagai orang buta, tuli, bisu dan lumpuh, itulah orang yang tidak memahami keadaan, padahal situasinya terjadi kebakaran dan harus diselamatkan. Intinya kita harus mengerahkan segenap potensi kita, seperti dipermaian tadi, kalian harus mengangkat badan teman kalian yang lebih besar dengan beramai-ramai”

“Tentu kita tidak rela jika anggota kelompok atau keluarga menjadi korban. Dalam hal menyelamatkan orang dengan keadaan di atas, kita harus dengan lembut bersikap santun dan penuh hormat, kalau bersifat kasar malah jatuh akan lebih celaka lagi” imbuhku.

“Berarti dalam menolong (menyelamatkan) kita harus ikhlas dan tulus ya pak” komentar Ahmad.

“Benar sekali Ahmad, jiwa penyelamat harus dimulai dari kita sendiri dan akan semakin efektif jika dilakukan bersama-sama” sahutku.

Permainan/game “Selamatkan Saudaramu!” yang berdurasi sekitar 30 menit ini, semoga memberikan makna untuk diri ini dan para santri.[AY]

Bekasi, 19 September 2021
Aris Yulianto

Share

TRANS POPULER

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.