YOGYA YANG ISTIMEWA

TRANSINDONESIA.CO | Siapa yang tidak kenal Yogya, seperti Bali, Yogya menjadi salah satu destinasi wisata yang boleh dibilang istimewa. Lalu apa istimewanya Yogya? Kata istimewa memang melekat pada kalimat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Keistimewaan Yogya tidak saja pada persoalan politik administrasi kepemerintahan. Keistimewaan yogya juga melekat pada aspek peradaban ke-Indonesiaan secara menyeluruh yang meliputi aspek ideologi, politik, sosial dan budaya, ekonomi bahkan keamanan dan pertahanan.

Keistemewaan yogya yang pertama adalah bagaimana peninggalan peradaban masa lalu dalam bentuk candi berdiri megah terpelihara dengan baik di tengah perubahan zaman.

Candi bukanlah benda mati yang tidak memiliki arti atau tidak bisa berinteraksi dengan masa kini. Candi menjadi media kita berimajinasi tentang kehidupan di masa lalu, baik cerita melalui cerita yang dikemas dalam mitologi maupun kehidupan yang berdasarkan pada realitas tata laku masyarakat dan pemerintahannya.

Keberadaan candi- candi tersebut menunjukkan peradaban Yogyakarta di masa lalu memang sudah sangat istimewa. Bagaimana candi dibangun dengan arsitektur yang indah dan sarat makna, termasuk bagaimana pengetahuan dan teknologi pada masa itu menjadi bagian dari kemajuan peradaban masyarakat. Candi menjadi penanda yang menunjukkan masa lalu peradaban negeri ini tidak kalah hebat dengan peradaban lainnya di di dunia.

Keistimewaan kedua adalah tata laku masyarakat Yogya yang sarat dengan spiritualitas dan budaya. Suatu pendekatan kehidupan yang mengintegrasikan antara sang pencipta, alam semesta dan kehidupan makluk hidup di bumi. Suatu tata laku holistik yang tidak saja pada rapalan suci, tetapi juga tata laku yang menjaga hati, pikiran serta tindakan dalam kehidupan yang saling terikat dan membutuhkan. Sebagai suatu tri dharma yang didasarkan pada ketuhanan, mahluk hidup dan alam semesta, diantara agama, pengetahuan dan budaya.

Suatu peradaban istimewa di tengah dunia yang sedang mengalami ketegangan yang merupakan residu dari ketiga hal diatas. Konflik dan peperangan tidak saja meninggalkan jejak berdarah pada kehidupan. Konflik juga menghilangkan jejak peradaban masyarakatnya sendiri. Kita bisa lihat kelompok yang terafiliasi kepada ISIS di Timur Tengah atas nama keyakinannya menghacurkan artefak dan peninggalan  budaya pada peradaban masa lalu.

Keistimewaan ketiga dari Yogyakarta, di tempat ini jejak negara dan kebangsaan diletakkan. Disini kita akan menemukan konsep 3 (Tiga) pilar relasi kekuasaan – pengetahuan – rakyat melalui konsep keraton – kampus – kampung.

Keraton dimaknai sebagai simbol rumah kekuasaan dimana pemimpin dan para pembantunya bekerja dan mengelola pemerintahan. Kampus dimaknai sebagai simbol akal budi yang bertumpu pada pengetahuan. Sedangkan kampung merupakan makna dari rakyat pada umumnya yang hidup dalam suatu wilayah pemerintahan.

Konsep model keraton- kampus dan kampung adalah suatu hubungan triangulasi yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Sebagai suatu hubungan mutualisme yang diletakan kepada kepentingan bersama. Seluruh keputusan dan pelaksaan pemerintahan didasarkan pada pola pikir yang bersandar pada pengetahuan yang bertujuan untuk kepentingan rakyat.

Disisi lain bendera Merah Putih dan pohon bodhi merupakan simbol dari rakyat Indonesia yang membutuhkan perlindungan, pengayoman dan pelayanan dari negara. Hal ini dapat dilihat pada struktur bangunan Universitas Gadjah Mada. Konon konsep tersebut merupakan buah pemikiran Soekarno, founding fathers bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Keistimewaan selanjutnya adalah model pemerintahan yang mirip dengan sistem monarki – demokrasi. Sultan merupakan Gubernur yang bersifat otomatis tanpa melalui mekanisme pemilihan, sebagaimana kepala daerah termasuk  Bupati dan Walikota yang berada pada struktur kekuasaan politik di Yogya. Sultan memiliki peran sentral dalam urusan tata kelola pemerintahan dan roda pemerintahan di Yogya hingga ke tingkat desa.

Disisi lainnya peran solidarity maker Sultan sebagai Raja Yogya pada berbagai hubungan horisontal dan vertikal menjadi kunci stabilitas keamanan Yogya dan pada hal yang berkaitan dengan budaya, politik, ekonomi, hubungan sosial dan diplomasi dengan berbagai negara sahabat. Kondisi stabilitas yang demikian baik memungkinkan berbagai pembangunan di Yogya relatif dapat berjalan baik dan berkelanjutan. Yogya menurut saya menjadi model negara – bangsa ( nation state ) yang teroperasionalkan secara nyata.

Keistemewaan selanjutnya dari Yogyakarta adalah jejak kejuangan yang lahir dari berbagai peristiwa penting perjalanan negara, sejak pra kemerdekaan, era pembangunan dan masa reformasi. Peristiwa, tokoh maupun pemikiran konstruktif yang lahir, tumbuh dan berkembang di Yogya kemudian menjadi nilai historis dan substansial bagi perjalanan Republik Indonesia.

Yogya memang istimewa. Masih banyak keistemewaan Yogya yang belum dapat diuraikan dalam tulisan ini. Namun setidaknya kita bisa memahami Yogya adalah satu tempat yang dapat memberikan kita inspirasi dan motivasi. Yogya adalah laboratorium hidup tentang Indonesia masa lalu, masa kini dan proyeksi masa depan.

Suatu gambaran tentang evolusi peradadan manusia yang berjalan dari masa ke masa, dari aktor ke aktor lainnya. Bertemunya berbagai gagasan dan budaya dengan harmoni yang menjadikan Yogya sebagai “city of tolerance “, rumah besar bersama bagi masyarakat dengan nilai nilai ke-lndonesiaannya.

Keistemewaan Yogya harus kita jaga dari berbagai upaya individu dan kelompok yang menyuarakan nilai nilai intoleransi juga separatisme. Ada yang berupaya menjadikan Yogya sebagai ruang nyaman bagi simpatisan dan pendukung intoleransi dan separatisme  baik dalam soal gagasan, organisasi dan gerakan yang berkaitan dengan sikap insurbodinasi (rebellion) yang bersifat pragmatis bagi kepentingan kelompok dan individu tertentu.

Yogya yang istimewa dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi Indonesia yang istemewa di masa datang. Indonesia yang modern tetapi juga Indonesia yang bergerak maju tanpa meninggalkan akar sejarah bangsanya.

“Sekali Indonesia, Selamanya Indonesia”

Yogya, Juni 2021
Satrio Toto Sembodo

Share