
TRANSINDONESIA.CO – Sebanyak 61,5% siswa yang menjalankan Pembelajaran Jarak Jauh selama penyebaran Covid-19 mengatakan bahwa Pembelajaran Jarak Jauh membosankan dan 61,54% siswa mengaku tidak memahami materi yang diajarkan. Selain tidak memahami materi yang diajarkan, siswa mengaku tidak fokus (30,77%), tidak memiliki fasilitas yang memadai (3,85%), dan kesulitan-kesulitan lainnya (3,85%).
Orang tua siswa dalam survey ini mengeluhkan ketidak fokusan anak seperti anak lebih banyak memilih menonton YouTube, bermain game, dan menonton kartun alih-alih belajar untuk tujuan pemahaman terhadap materi.
Tidak hanya siswa, 76,92% orang tua siswa juga mengakui bahwa sistem Pembelajaran Jarak Jauh tidak efektif dan tidak sesuai dengan target pembelajaran meskipun 92,3% di antara mereka menyatakan turut mendampingi anaknya selama proses belajar. Bahkan, guru pun mengeluhkan bahwa Pembelajaran Jarak Jauh tidak efektif (91%) dan tidak mencapai target pembelajaran (91%).
Sebagai pendamping siswa selama belajar, orang tua menghadapi hambatan-hambatan dalam proses pendampingan seperti tidak fokus mendampingi anak belajar karena pekerjaan rumah, tidak memahami mata pelajaran yang diajarkan, anak yang protes dengan sistem pembelajaran orang tua, jaringan internet yang kurang memadai, kesulitan dalam menjawab pertanyaan anak, dan orang tua yang tidak memahami penjelasan oleh guru atas arahan yang diberikan. Di samping itu, guru juga mengalami hambatan-hambatan seperti tidak memiliki paket internet, tidak mempunya handphone android, sulit mengkondisikan anak karena tidak ada batasan ruang dan waktu, serta kewalahan dalam memeriksa hasil belajar karena harus standby terus menerus.
Fakta bahwa siswa dan orang tua mengakui ketidakefektifan sistem Pembelajaran Jarak Jauh tersebut kontradiktif dengan hasil survey ini yang menyatakan bahwa 92,31% siswa merasa kondisi rumah mendukung pembelajaran yang kondusif dan siswa menyukai fleksibilitas waktu (88,46%) yang ditawarkan oleh sistem Pembelajaran Jarak Jauh karena siswa tidak memiliki jam khusus untuk belajar (80,78%). Nyatanya, kondisi rumah yang kondusif dan fleksibilitas waktu tersebut tidak berbanding lurus dengan pemahaman terhadap pelajaran dan juga antusiasme belajar siswa.
Selama Pembelajaran Jarak Jauh, internet mendominasi sumber belajar siswa (50%) dibandingkan dengan sumber belajar lainnya: guru (38,5%) dan lain-lain (11,54%). Sebagai konsekuensi dari dominannya penggunaan internet sebagai sumber belajar, siswa harus mengeluarkan biaya pembelian paket internet. Paket Internet tersebut 92,31% dibeli secara mandiri oleh siswa dan sisanya menggunakan paket internet yang disediakan di rumah (3,85%).
Meskipun internet menjadi sumber informasi andalan untuk belajar, baik siswa maupun orang tua menyarankan untuk diadakannya pendampingan dan kontrol yang intensif dari guru selama Pembelajaran Jarak Jauh. Beberapa saran spesifik dari orang tua jika Pembelajaran Jarak Jauh dijalankan lebih lama yaitu agar ada diskusi & koordinasi antara orang tua dan guru agar pembelajaran lebih efektif.
Dalam diskusi dan koordinasi tesebut, diharapkan ada muatan yang diberikan untuk orang tua sebagai pendamping siswa dalam belajar. Inovasi-inovasi pembelajaran oleh guru yang mendorong pembelajaran dua arah juga diharapkan oleh orang tua. Inovasi tayangan TV nasional yang memuat konten-konten edukatif bagi siswa juga diharapkan oleh orang tua. Dengan begitu, akan mengurangi biaya operasional untuk mengakses internet.
Pembelajaran Jarak Jauh mengambil konsekuensi pada berkurangnya biaya operasional oleh sekolah dalam proses belajar mengajar sehingga orang tua berharap ada pengurangan biaya operasional yang harus dibayarkan ke sekolah. Sekolah juga diharapkan membuat siasat untuk siswa yang sudah duduk di kelas XII (dua belas) yang akan melanjutkan pendidikan tinggi.
Sementara itu, siswa yang terlibat dalam survey ini berharap agar guru memberi penjelasan melalui video, mengadakan jam khusus untuk belajar, tidak terlalu memberikan banyak tugas, memberikan bantuan fasilitas berupa paket internet, memberikan pendampingan agar pembelajaran tidak membosankan, dan berharap agar bisa masuk sekolah secepatnya.
Di sisi lain, guru sebagai pengajar di sekolah berharap agar pemerintah bisa memberi dukungan berupa terobosan sistem belajar lewat situs yang dapat diakses secara offline. Kalaupun pembelajaran harus dijalankan secara online, guru berharap ada bantuan berupa paket Internet baik untuk guru atau untuk siswa.
Hasil ini diperoleh melalui survey singkat evaluasi Pembelajaran Jarak Jauh oleh Kelompok Kerja Sosial Perkotaan (KKSP Jakarta) pada 12-14 April 2020 pada 32 guru, 26 siswa dan 13 orang tua.*
[Ismaini Sitompul – Koordinator Kelompok Kerja Sosial Perkotaan (KKSP) Jakarta]






