Allah Ar-Razzaq, Menumbuhkan Keyakinan yang Kokoh

TRANSINDONESIA.CO – Di kelas, seorang dosen memberikan penjelasan kepada para mahasiswa tentang salah satu dari sifat Allah yakni Ar-Razzaq. Makna “Ar-Razzaq” bukan sekedar bahwa Allah adalah maha pemberi rezeki. Sebab kalau hanya itu maknanya, cukup dengan “Ar-Raziq”.

Lebih dari itu, “Ar-Razzaq” berarti maha pemberi rejeki kepada makhluk Nya tanpa pernah berhenti hingga sang penerima rejeki meninggal dunia. Bahkan seandainya hamba penerima rejeki itu tidak bersyukur (kufur nikmat), ar-Razzaq tetap terus memberikan rezeki.

Dalam Alquran, sifat Allah “ar-Razzaq” hanya tertulis satu kali saja, yakni dalam surah Adz-Dzariyat ayat 58. Sementara kata “Ar-Raziq” (Raziqin), terdapat dalam enam ayat, seperti dalam surah Al-Maidah ayat 114, surah al-Hajj ayat 58, dan surah Al-Mukminun ayat 72.

Perhatikan ayat-ayat berikut ini:

إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلۡقُوَّةِ ٱلۡمَتِینُ

[Surat Adz-Dzariyat:58) –
“Sesungguhnya Allah Dialah ar-Razzaq Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh”.

قَالَ عِیسَى ٱبۡنُ مَرۡیَمَ ٱللَّهُمَّ رَبَّنَاۤ أَنزِلۡ عَلَیۡنَا مَاۤىِٕدَةࣰ مِّنَ ٱلسَّمَاۤءِ تَكُونُ لَنَا عِیدࣰا لِّأَوَّلِنَا وَءَاخِرِنَا وَءَایَةࣰ مِّنكَۖ وَٱرۡزُقۡنَا وَأَنتَ خَیۡرُ ٱلرَّ ٰ⁠زِقِینَ
[Surat Al-Ma’idah 114]
“sa putera Maryam berdoa: “Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezeki kami, dan Engkaulah pemberi rezeki Yang Paling Utama”.

(وَٱلَّذِینَ هَاجَرُوا۟ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ ثُمَّ قُتِلُوۤا۟ أَوۡ مَاتُوا۟ لَیَرۡزُقَنَّهُمُ ٱللَّهُ رِزۡقًا حَسَنࣰاۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَهُوَ خَیۡرُ ٱلرَّ ٰ⁠زِقِینَ

[Surat Al-Hajj 58]
“Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka di bunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki”.

أَمۡ تَسۡـَٔلُهُمۡ خَرۡجࣰا فَخَرَاجُ رَبِّكَ خَیۡرࣱۖ وَهُوَ خَیۡرُ ٱلرَّ ٰ⁠زِقِینَ

[Surat Al-Mu’minun 72]
“Atau kamu meminta upah kepada mereka? Maka upah dari Tuhanmu adalah lebih baik, dan Dia adalah Pemberi rezeki Yang Paling Baik”.

Setelah menjelaskan tentang hal di atas, sang dosen memberikan empat pertanyaan terkait “Ar-Razzaq” ini. Setiap pertanyaan dimulai dengan kalimat “apakah kalian yakin?”

Perhatikan dan simak dengan seksama pertanyaannya:

1. Apakah kalian yakin bahwa Allah adalah Ar-Razzaq ?
2. Apakah kalian yakin bahwa Allah Ar-Razzaq mampu memberikan rezeki kepada semua makhluk Nya, kapan saja dan di mana saja mereka berada ?
3. Apakah kalian yakin bahwa Allah Ar-Razzaq mampu memberikan rezeki kepada semua makhluk Nya, kapan saja dan di mana saja mereka berada, tanpa mereka harus bekerja ?
4. Apakah kalian yakin bahwa Allah Ar-Razzaq mampu memberikan rezeki kepada kita (makhluk dan hamba Nya), kapan saja dan di mana saja kita berada, tanpa kita harus bekerja ?

(Wahai saudaraku para pembaca… … sebelum dilanjutkan, apakah Anda semua akan menjawab empat pertanyaan di atas dengan mantap “Ya, saya yakin”. Atau Anda hanya menjawab yakin untuk sebagian pertanyaan saja ?… Silakan dijawab dulu baru melanjutkan membaca).

….

Dua pertanyaan pertama, dijawab dengan semangat oleh mahasiswa, “Ya, kami yakin”. Sedangkan pertanyaan ketiga dijawab dengan sedikit keraguan. Bahkan pertanyaan keempat dijawab dengan banyak keraguan (sangat ragu).

Sang dosen tersenyum. Ia lalu mengatakan, “Saya meragukan keimanan kalian. Tampaknya kalian memang belum beriman, atau jangan-jangan kalian sebenarnya tidak beriman”.

Kelas menjadi hening, tanpa suara. Semua terpaku diam. Tiba-tiba, seorang mahasiswa mengangkat tangannya, “Mengapa Bapak mengatakan kami belum atau tidak beriman?”.

“Ya, saya katakan kalian tidak beriman karena kalian sudah meragukan kemampuan Tuhan”, jawab sang dosen.

“Maaf Pak, kami bukan meragukan kemampuan Tuhan”, sela mahasiswa lain.

“Lho, bagaimana mungkin kalian tidak meragukan Nya? Bukankah pertanyaan saya dimulai dengan kalimat “Apakah kalian yakin bahwa Allah ar-Razzaq mampu … …”

Kalau kalian menjawab kurang yakin atau malah tidak yakin, untuk pertanyaan ketiga dan keempat, itu artinya kalian mengatakan bahwa kalian tidak yakin Tuhan mampu. Dan kalau menurut kalian Tuhan tidak mampu, itu berarti kalian memang tidak beriman, karena tidak meyakini kekuasaan dan ke maha besaranNya…” tambah sang dosen.

Kelas hening lagi. Sebagian duduk lemas dan bersandar ke kursi. Sebagian lagi geleng-geleng kepala. Hanya sebagian kecil yang menyapu muka dan mendesah, “Astaghfirullahal ‘azhim”…

Sang dosen kemudian bertanya lagi kepada mahasiswanya, “Apakah kalian sudah bekerja?”

“Belum Pak” jawab mereka. Karena mereka baru semester satu (awal). Hanya 1-2 orang yang mengacungkan tangan bahwa dia sudah bekerja.

Sang dosen melanjutkan pertanyaan, “Selama ini, sejak kalian lahir sampai sekarang, rejeki siapa yang kalian makan? Rejeki siapa yang kalian gunakan dalam hidup?”

(قُلۡ مَن یَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَاۤءِ وَٱلۡأَرۡضِ أَمَّن یَمۡلِكُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَـٰرَ وَمَن یُخۡرِجُ ٱلۡحَیَّ مِنَ ٱلۡمَیِّتِ وَیُخۡرِجُ ٱلۡمَیِّتَ مِنَ ٱلۡحَیِّ وَمَن یُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَۚ فَسَیَقُولُونَ ٱللَّهُۚ فَقُلۡ أَفَلَا تَتَّقُونَ)

[Surat Yunus 31]
“Katakanlah: Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?”

Mahasiswa semakin terdiam. Sebagian mereka sudah mulai tersenyum, karena selama belasan tahun tahun mereka tidak bekerja namun rejeki selalu ada. Mereka kemudian menjawab, “Rejeki dari Allah”.

Giliran sang dosen yang tersenyum melihat mahasiswa tersenyum. Tampak mereka mulai paham dan mulai yakin. “Sekarang saya akan tanya ulang. Apakah kalian yakin bahwa Allah mampu memberi rejeki kepada seseorang tanpa ia harus bekerja?”

Mahasiswa menjawab “Ya Pak, yakin”.

Ya kalian sudah membuktikannya sendiri selama bertahun-tahun. Diantara kalian ada yang berusia 18, 19 bahkan ada yang 20 tahun. Dalam masa itu pula, kalian diberi rejeki oleh Allah, tanpa harus bekerja.

Semua terdiam. Sebagian tersenyum. Sebagian manggut-manggut tanda paham. Dan sang dosen ini hanya ingin memberikan keyakinan kepada mahasiswanya bahwa Allah adalah Ar-Razzaq, Sang Maha Pemberi rejeki.

[DR.H.Ustadz Muhammad Iqbal Irham]

Share