Ilustrasi.
TRANSINDONESIA.CO – Asbabun Nuzul adalah Ilmu Al Quran yang membahas mengenai latar belakang atau sebab-sebab dari satu ayat atau beberapa ayat Al Quran diturunkan – (Kamus Besar Bahasa Indonesia/KBBI).
Pada umumnya Asbabun Nuzul ini memudahkan para muffassir (ahli menerangkan makna/maksud Al Quran/ahli tafsir/penafsiran Al Quran),
Berikut adalah Asbabun Nuzul
QS Al Baqarah 177, menurut Ar -Rabi’ Qatadah, sebab turunnya ayat ini adalah Kaum Yahudi beribadah menghadap kearah Barat, sedang Nasrani menghadap kearah timur, dan masing-masing golongan mengatakan bahwa golongannya lah yang benar, dan golongan laen salah dan dianggap tidak berbakti atau berbuat kebajikan, maka turunlah ayat ini, untuk membantah pendapat dan persangkaan mereka.
Inilah salah satu sebab musabab turunya ayat ini, meski ada pendapat lain.
لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفِى الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْاۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْاۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ
Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.
Tafsir Kemenag RI
Ayat ini bukan saja ditujukan kepada umat Yahudi dan Nasrani, tetapi mencakup juga semua umat yang menganut agama-agama yang diturunkan dari langit, termasuk umat Islam.
Pada ayat 177 ini Allah menjelaskan kepada semua umat manusia, bahwa kebajikan itu bukanlah sekadar menghadapkan muka kepada suatu arah yang tertentu, baik ke arah timur maupun ke arah barat, tetapi kebajikan yang sebenarnya ialah beriman kepada Allah dengan sesungguhnya, iman yang bersemayam di lubuk hati yang dapat menenteramkan jiwa, yang dapat menunjukkan kebenaran dan mencegah diri dari segala macam dorongan hawa nafsu dan kejahatan. Beriman kepada hari akhirat sebagai tujuan terakhir dari kehidupan dunia yang serba kurang dan fana. Beriman kepada malaikat yang di antara tugasnya menjadi perantara dan pembawa wahyu dari Allah kepada para nabi dan rasul. Beriman kepada semua kitab-kitab yang diturunkan Allah, baik Taurat, Injil maupun Al-Qur’an dan lain-lainnya, jangan seperti Ahli Kitab yang percaya pada sebagian kitab yang diturunkan Allah, tetapi tidak percaya kepada sebagian lainnya, atau percaya kepada sebagian ayat-ayat yang mereka sukai, tetapi tidak percaya kepada ayat-ayat yang tidak sesuai dengan keinginan mereka. Beriman kepada semua nabi tanpa membedakan antara seorang nabi dengan nabi yang lain.
Iman tersebut harus disertai dan ditandai dengan amal perbuatan yang nyata, sebagaimana yang diuraikan dalam ayat ini, yaitu:
1A. Memberikan harta yang dicintai kepada karib kerabat yang membutuhkannya. Anggota keluarga yang mampu hendaklah lebih mengutamakan memberi nafkah kepada keluarga yang lebih dekat.
1B. Memberikan bantuan harta kepada anak-anak yatim dan orang-orang yang tidak berdaya. Mereka membutuhkan pertolongan dan bantuan untuk menyambung hidup dan meneruskan pendidikannya, sehingga mereka bisa hidup tenteram sebagai manusia yang bermanfaat dalam lingkungan masyarakatnya.
1C. Memberikan harta kepada musafir yang membutuhkan, sehingga mereka tidak terlantar dalam perjalanan dan terhindar dari pelbagai kesulitan.
1D. Memberikan harta kepada orang yang terpaksa meminta minta karena tidak ada jalan lain baginya untuk menutupi kebutuhannya.
1E. Memberikan harta untuk menghapus perbudakan, sehingga ia dapat memperoleh kemerdekaan dan kebebasan dirinya yang sudah hilang.
2. Menunaikan Shalat, artinya melaksanakannya tepat pada waktunya dengan khusuk dan lengkap dengan rukun-rukun dan syarat – syaratnya
3. Menunaikan/membayar zakat pada yang berhak menerimanya, sebagaimana yang dijelaskan dalam QS At Taubah 60,
Dalam Al Quran bila disebutkan perintah mendirikan sholat selalu diiringi dengan perintah menunaikan zakat, dan antara shalat dan zakat terjadi hubungan yang sangat erat dalam melaksanakan ibadah dan kebajikan, jadi Shalat itu pembersih Jiwa dan Zakat pembersih harta.
Membayar/mengeluarkan zakat bagi manusia memang sangat sulit (meski tidak semua), karena mengeluarkan harta sendiri yang sangat disayangi, oleh karena itu bila ada perintah Shalat selalu diiringi perintah zakat, karena kebajikan itu tidak cukup dengan jiwa saja tetapi harus disertai dengan harta. Karena alasan itulah sesudah Rasulullah SAW wafat para sahabat sepakat tentang “wajib memerangi orang yang tak mau menunaikan zakat hartanya”
4. Menepati janji artinya bagi mereka yang telah menyatakan perjanjian, segala macam janji yang telah dijanjikan wajib ditepati, baik janji pada Allah (sumpah/Nazar) dan sejenisnya. Maupun janji pada manusia, kecuali janji yang bertentangan dengan Hukum Allah (syariat Islam) seperti janji berbuat maksiat, maka tidak boleh (haram) dilakukan. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasul saw yang berarti “tanda-tanda orang munafik ada tiga” yaitu,
4A. Apabila berkata maka ia akan selalu berbohong
4B. Apabila berjanji selalu mengingkari (tidak menepati)
4C. Apabila dipercaya ia selalu berkianat (HR Muslim dari Abu Hurairah)
5. Sabar dalam arti tabah, maksudnya menahan diri dan berjuang dalam mengatasi kesempitan yakni kesulitan hidup (krisis ekonomi, penderitaan – penyakit/cobaan) dan dalam peperangan yaitu ketika perang berkecamuk.
6. Hikmah QS2. ayat 177, (menurut tafsir Qurtubi ll hal. 241) mengatakan bahwa QS2 ayat 177 adalah ayat yang sangat Istimewa/Agung, karena diantara ayat-ayat, hukum-hukum pokok, karena didalamnya terkandung 16 kaidah antara lain:
1. Iman kepada Allah
2. Nama-nama dan sifat-sifatNya
3. Hari pembangkitan dan penghimpunan
4. Hari perhitungan amal
5. Syafaat
6. Syurga
7. Neraka
8. Menafkahkan harta (baik wajib/sunnah)
9. Menyambung kekerabatan (Silaturrahim)
10. Menghindari memutus kekerabatan.
11. Menyantuni anak yatim dan orang miskin
12. Memberikan hak hak musafir
13. Memelihara shalat
14. Menunaikan zakat
15. Memenuhi janji
16. Sabar dalam menghadapi bencana
Penulis : Hartoyo [Mahasiswa – LSUQ/Lembaga Study Ulumul Quran Bandung]
Sumber :
1. Tafsir Alquran Al Bayan,
2. Mapping Al Quran.
3. Tafsir Al Qurtubi ll
