Tiga anggota DPRD Provinsi Jawa Barat usai dilantik menemui puluhan aktivis mahasiswa yang berdemo sejak acara pelantikan berlangsung di Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Senin (2/9/2019). [Transindonesia.co/BSH]
TRANSINDONESIA.CO – Aktivis mahasiswa yang tergabung dalam Forum Mahasiswa Nasionalis (FMN) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) kompak berdemo saat 120 Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat sedang dilantik di Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Senin (2/9/2019).
Gelombang aksi mahasiswa yang diawali aktivis FMN kemudian disusul KAMMI, mendesak partai pengusung anggota DPRD Jabar Taufik Hidayat yang dilantik bersama 119 anggota lainnya mengusut tuntas kasus istri Taufik Hidayat yang menjadi DPO Polda Sulawesi Tenggara (Sultra) terkait Laporan Polisi Nomor: LP/193/IV/2018 SPKT Polda Sultra tanggal 6 April 2018, oleh Direktur PT Duta Nikel Indonesia (DNI), Theo Lay Yong alias Michael melaporkan Komisaris PT Duta Tambang Gunung Perkasa (DTGP) berinisial RM atas dugaan tindak pidana penipuan terkait joint operasional pertambangan dengan dugaan melanggar pasal 378 KUHP.
“Kami Forum Mahasiswa Nasionalis datang kemari (Gedung Merdeka) menuntut tiga hal terkait anggota DPR Jabar yang dilantik. Kami tak inginkan anggota DPRD Jabar yang diduga terbelit kasus hukum baik secara pribadi maupun keluarganya,” kata Korlap aksi FMN, Faisal Alimudin saat berunjukrasa di luar Gedung Merdeka saat 120 anggota DPRD Jabar dilantik di dalam gedung sejarah tersebut.
Dimana kasus hukum yang mendera RM terindikasi telah melakukan dugaan pelanggaran hukum dengan menggelapkan anggaran Rp3,7 miliar milik PT Duta Nikel yang berita acara perkara (BAP)nya telah dirampungkan penydik Polda Sultra dan saat dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi Sultra, tersangka RM “menghilang” hingga Polda Sultra mengeluarkan surat DPO Nomor: DPO/17/VII/2019/Dit Reskrimum.
“Satu hal yang mendasar ada dewan yang dilantik menyembunyikan kasus hukum istrinya yang menjadi DPO, dewan ini harus mendengar,” ucap Faisal.
Saat mahasiswa beraksi sejak berlangsungnya pelantikan hingga selesai dan beberapa kenderaan dewan yang usai dilantik melintas di depan aksi mereka berbelok ke kanan ke Jalan Cikapundung. Sedangakan mahasiswa menutup jalan Asia Afrika arah ke Alun Alun Kota Bandung.
Melihat hal itu, dengan pengeras suara para korlap mahasiswa sempat meneriaki anggota dewan untuk mampir dan menemui mereka.
“Kami minta polisi untuk memanggil perwakilan anggota dewan menemui kami yang sejak pagi di sini. Kepada dewan ada yang mampir berorasilah dengan kami,” teriak mereka.
Para aktivis mahasiswa berupaya merengsek maju mendekati Gedung Merdeka namun tetap mendapat kawalan aparat polisi.
Pantauan Transindonesia.co, orasi mahasiawa menyuarakan kasus-kasus anggota dewan dan meminta dewan komitmen dengan janji kampanyenya untuk tidak korupsi dan mensejahterakan rakyat Jabar terus disuarakan.
“Kami datang dari Garut, 1998 mahasiswa lantang menyuarakan dan berjuang reformasi, tapi dewan tak banyak berubah,” ucap salah seorang orator mahasiwa dari Garut.
Mendengar permintaan para mahasiswa, tiga anggota DPRD Provinsi Jawa Barat yang baru dilantik yakni, dari Fraksi PDI Perjuangan, Abdi Yuhanan, Farudiansyah, dan Tanyontong, menemui puluhan mahasiswa.
“Menyampaikan komitmen mahasiswa merupakan infrastruktur politik harua terus ada dan kami janji tetap bersama mahasiswa dan masyarakat Jabar,” kata Abdi Yuhana saat menemui mahasiswa.
Lebih lanjut Abdi berjanji tetap memperjuangkan aspiraai mahasiswa untuk kesejahteraan masyarakat Jawa Barat.
“Kami tunggu aspirasi-aspirasi mahasiswa di DPRD Jabar,” tutup Abdi.
Aksi berakhir dengan kondusif, hingga gabungan mahasiswa itu membubarkan diri pukul 12:30.[BSH]






