Ilustrasi
TRANSINDONESIA.CO – Siapa dia, apa yg diperbuatnya dan apa manfaatnya? ketika orang mengajak berbuat sesuatu kepada banyak orang, maka akan ada pertanyàan dalam hati maupun ucapan siapa dia.
Tatkala tidak dikenal maka iapun bagai berteriak di kampung orang-orang tuli yang cuek dengan apa yang diteriakanya. Ketulianya bukan karena tidak mendengar tetapi karena pura-pura tidak mendengar atau memang tidak ingin mendengar alias mbudeg.
Kecuekannya bukan karena buta atau karena tidak mampu melihat, lagi-lagi karena sengaja tidak mau melihat alias micek. Tatkala tidak dikenal maka tak disayang benarlah kata pepatah takenanl maka tak sayang.

Banyak orang berniat baik memperkenalkan sesuatu yang baru, yang mmg baik dan benar, namun tatkala tidak dikenal apalagi tidak memiliki kekuasaan pangkat derajat dan kekayaan, apa yang disampaikan masuk telinga kiri dan keluar lagi.
Dikenal baik di dalam lingkungan yang hedonis konsumtif materialis adalah mau membagi atau memberi sesuatu. Prinsip kebagian akan menjadi dasar untuk dikenal. Bagi-bagi tebar kenikmatan walau sebenarnya merupakan berbagi dosa (bila dari perbuatan dosa juga). Ah itu yang dosakan perbuatanya, uang dan barangnya kan tidak ikut berdosa.
Ada yang beranggapan demikian. Ada juga yang sebaliknya sampai-sampai dirinya setres dan penuh ketakutan krn memikirkan dosa dan pahala. Pamrih kapling besar di surga?
Orang dikenal karena konsisten atau kegigihanya. Walaupun buruk dicela namun tatkala konsisten akan dikenal juga. Tentu dikenal sebagai benalu bisa juga preman atau bahkan mafia.
Kegigihan adalah keberanianya untuk pantang menyerah. Terus berani menyuarakan apa yang dianggapnya baik dan benar. Pantang menyerah, terus bersemangat meyakinkan. Baik dan benar sekalipun tatkala belum menjadi hal yang dipahami khalayak maka bisa dianggap buruk dan salah. Sebaliknya buruk dan salah bila banyak dilakukan orang bisa saja dianggap baik dan benar.
Pemberian label di sinilah kekuatan siapa dia. Tatkala memiliki tahta kuasa harta dan massa maka bisa memaksakan dan memberi tekanan ayas pembenaran yang dibuatnya. Bagi yang menentang atau tidak sepaham akan dilabel dari tidak loyal sampai dengan golongan yang sesat tidak di jalan Tuhan. Tak jarang dicap pendosa yang layak dimasukkan menjadi intip atau kerak neraka.
Memiliki tahta harta benada kuasa dan massa menjadi idola dan cita-cita. Dari diperjuangkan sampai dengan diperjual belikan.
Siapa dia yang selayaknya dapat dikatakan sang pejuang kemanusiaan, sang pembangun peradaban dan sang penjaga kehidupan adalah yang mampu menunjukkan apa yang dilakukan membawa manfaat bagi banyak orang. Pikiran perkataan dan perbuatanya untuk meningkatkan kualitas hidup yng membuat semakin manusiawinya manusia.
Menunjukkan jati diri dan berani menyampaikan suara hatinya bagi kemaslahatan banyak orang memerlukan nyali mendobrak kemapanan dan kenyamanan. Apalagi untuk mencerdaskan untuk membongkar belenggu-belenggu mind set yang sudah mengakar bisa jadi malah menjadi korban atau dikorbankan.
Memasuki sesuatu ranah dapat dianalogikan masuk ke rimba baru yang kejam dan sarat tantangan. Cibiran hujatan akan terus dikumandangkan, “siapa dia? bisa apa? apa yang diperbuatnya?, itu dagangan sampah dr mimpinya saja”.
Atau karena tidak kebagian terus berteriak-teriak. Kekuatan status quo dan kaum-kaum nyaman dan mapan akan menggunakan segala daya apabila ada yang mengusiknya.
Tatkala semua mulai waras dan cerdas kaum mapan dan nyaman twrusik. Bagai air kolamnya mulai mengering. Mereka tetap tidak percaya bahwa air yang digantikan jauh lebih banyak lebih sehat dan lebih berharga.
Mempertahankan kebodohan dan ketidak warasan seakan menjadi pejuang surga dan mengatasnamakan kesucian atau bahkan rela memasang sayap-sayap buatan agar nampak seperti malaikat Tuhan.
Kerja … kerja … kerja … sebenarnya menyehatkan, mewaraskan dan membuat terhormat. Tentu kaum-kaum mapan dan nyaman sanga terrusik karena keistimewaan dan kenyamananya terganggu dengan adanya pencerdasan dan pewarasan banyak orang.
Cerdas dan waras akan membuat mata telinga terbuka dan mulut berani berbicara. Inikah yang ditakutkan mereka kaum mapan dan nyaman? Bisa saja demikian karena akan ketahuan tipuan-tipuan dan hasutan mereka yang membodohi dan menggiring dalam candu-candu di dalam tempurung dungu.
Mereka akan menggunakan segala cara agar orng tetap takut dan percaya atas tipu daya penggerusan nalar yang jauh dari logika waras dan cerdas.
Mewaraskan dan menverdaskan akan dilakukan orang-orang yang tergolong temperem, radikal yang berani berpikir dan bertindak di luar mind stream atau out ofvthe box.
Ide-idenya, perkataam dan perbuatanya sering dianggap gila atau tidak waras, namun disitulah nyalinya menunjukan siapa dirinya, apa yang diperbuatnya dan apa manfaatnya bagi semakin waras dan cerdasnya manusia.[CDL]







