Ilustrasi
TRANSINDONESIA.CO – Kondisi masyarakat yang kehilangan panutan atau idola orang-orang yang nasionalis akan berdampak pada mudah jatuh dalam pelukan kaum provokator, teroris atau penghancur NKRI.
Tatkala suara-suara kebenaran dan keadilan bahkan perjuangan untuk mewaraskan tidak lagi dihargai dan belum menjadi core valuenya, lagi-lagi hasutan kebencian akan mudah ditaburkan. Serangan-serangan yang menggerus Nasionalisme akan terus ada dan secara struktural masif mencuci otak menggiring rakyat ke dalam tempurung kebodohan.
Kebenaran diabaikan, diganti dengan pembenaran-pembenaran. Benar bila tidak menjadi pangangan umum dan opini publik akan dianggap salah. Demikian sebaliknya hal-hal yang keliru anti kemanusiaan sekalipun akan dianggap benar. Tidak lagi mampu membedakan mana anjing mana kambing.

Apapun yang dilakukan untuk kebaikan dan ajakan untuk keluat dari tempurung ketololan akan terus dihujat bahkan kalau bisa akan dimatikan. Disinilah suara orang-orang bernyali untuk menyatakan kebenaran dengan lantang menyadarkan keluar dari tempurung yang sarat candu ketololan.
Suara kaum akademisi, suara seniman, suara budayawan, suara para tokoh nasionalis dan waras nyaring dan lantang berani mengingatkan bahkan menuding kaum-kaum penyesat rakyat.
Kekuatan mewaraskan memang bukan hal mudah apalagi kalau dikemas dengan bungkus-bungkus absurd dogma yang menjd harapan hidup kekal. Logika mewaraskan ini perlu kaum-kaum militan juga berani berkorban, tentu saja rukun dan saling mendukung.
Tatkala kaum-kaum idealis nasionalis, tokoh sudah masuk angin atau bahkan kecanduan tentu tidak akan mampu menghalau kaum penyesat.
Pada pendidikanlah tergantung masa depan bangsa. Kaum pendidik dan lembaga-lembaga pendidikkan tidak boleh larut atau malah disusupi candu kebencian dan permusuhan. Para pemimpin diharapkan tampil jadi panutan pewarasan bukan ingah ingih ketakutan kehilangan jabatan.
Kaum intelektual, seniman, budayawan dan tokoh-tokoh cinta bangsa terus menggelorakan rukun dan waras sebagai bagian mencerdaskan kehidupan bangsa.
Apapun namanya, mewarskan akan dianggap gila dilabel berbagai stempel pembunuhan karakter. Gelo tibo mburi. Sadar tatkala sudah hancur, sesal tiada guna.
Saatnya berani rukun, berani waras, berani mengatakan kebenaran dan melawan kaum pecandu ketololan. “Kalau tidak sekarang kapan lagi, kalau tidak dari diri kita kapan lagi”.[CDL]







