Presiden Jokowi didamping Wapres Jusuf Kalla pada pertemuan awal tahun dengan para pelaku industry jasa keuangan di Istana Negara, Jumat, 13 Januari 2017.[IST]
TRANSINDOENSIA.CO – Di tengah ketidakpastian global yang sedang melanda, Presiden Joko Widodo mengajak seluruh pihak untuk tetap berlaku optimis. Sebab, segala kesulitan apapun akan tetap dapat diatasi bila dihadapi dengan rasa optimis.
“Kita harapkan pada tahun ini semuanya optimis. Jangan ada kata-kata pesimis. Kesulitan apapun, tantangan yang banyak apapun, harus kita hadapi dengan rasa optimis. Dunia juga sama, kalau pemimpin-pemimpinnya tidak memberikan rasa optimis, bagaimana rakyatnya. Sulit? Iya sulit. Tantangan banyak? Iya tantangan banyak. Ekonomi global turun? Iya benar. Tapi setiap tantangan itu pasti ada juga kesempatan-kesempatan yang bisa kita ambil,” kata kata Presiden Jokowi dalam pertemuan awal tahun dengan para pelaku industry jasa keuangan di Istana Negara, Jumat, 13 Januari 2017.
Posisi Indonesia sendiri dalam pertumbuhan ekonomi dunia masih berada pada posisi yang sangat baik. Bila dibandingkan dengan negara-negara G20 misalnya, Indonesia masih berada pada posisi tiga besar.
![Presiden Jokowi didamping Wapres Jusuf Kalla pada pertemuan awal tahun dengan para pelaku industry jasa keuangan di Istana Negara, Jumat, 13 Januari 2017.[IST]](https://transindonesia.co/wp-content/uploads/2017/01/Presiden-JK.jpg)
Demikian halnya dengan tingkat inflasi. Selama beberapa tahun ke belakang, tingkat inflasi di Indonesia pernah mencapai angka 8 hingga 9 persen. Namun, belakangan tingkat inflasi mampu ditekan hingga pada Desember 2015 sebesar 3,35 persen.
“Coba kita lihat sisi inflasi kita. Angka-angka ini harus kita sampaikan untuk menguatkan rasa optimisme bahwa fundamental ekonomi kita adalah baik. Inflasi kita lihat tahun yang lalu 3,35. Pada tahun-tahun sebelumnya, kita 8 sampai 9. Sudah bisa kita injak sampai 3,35. Ini juga bukan angka yang mudah diperoleh,” ungkapnya yang langsung disambut tepuk tangan hadirin.
Namun, yang kini menjadi perhatian tersendiri, Presiden Joko Widodo tetap mengingatkan soal kesenjangan di Indonesia. Meski angka gini ratio di Indonesia menurun bila dibanding sebelumnya, menurut Presiden hal tersebut masih tetap merupakan peringatan bagi pemerintah agar terus bekerja lebih keras.
“Kita memang sudah pada posisi yang kuning menuju ke merah. Lebih dari 14 tahun catatan saya gini ratio kita naik terus. Yang terakhir 0,41, tapi alhamdulillah tahun kemarin bisa diturunkan menjadi 0,397. Turunnya sedikit, tapi turun jangan naik. Angka kesenjangan inilah yang menjadi tantangan berat kita,” tutur Kepala Negara.
Oleh karenanya, mengakhiri sambutannya tersebut, sekali lagi Presiden mengajak seluruh pihak untuk bekerja lebih keras sambil tetap memupuk semangat optimis dalam menghadapi segala tantangan.
“Pekerjaan kita masih banyak dengan tantangan-tantangan yang makin berat, tetapi sekali lagi kita harus optimis menghadapi itu,” tutupnya.
Tampak hadir dalam pertemuan tersebut di antaranya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad, dan Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian.[DAN]






