Ilustrasi
TRANSINDONESIA.CO – Manusia dinyatakan sebagai mahkluk Tuhan yang paling sempurna, karena memilik akal budi (otak dan hati nurani). Manusia yang manusiawi akan semakin memanusiakan sesamanya manusia. Namun sebaliknya manusia yang anti kemanusiaan akan mematikan sesamanya manusia.
Homo homini lupus (manusia menjadi serigala bagi sesamanya), homo homini salus (manusia bermanfaat (memanusiakan) bagi sesamanya). Manusia sebagai mahkluk sosial akan berkelompok untuk mempertahankan dirinya untuk dapat hidup, tumbuh dan berkembang.
Pada kelompok-kelompok inilah yang pertama dan Utama (primordial : suku bangsa, ras, golongan, agama) menjadi andalannya, namun sebaliknya juga akan menjadi kelemahannya karena dapat memangkas bahkan menghilangkan akal budinya.

Sumber daya akan menjadi perebutan dalam kelompok-kelompok manusia, untuk dapat hidup tumbuh dan berkembang. Demikian halnya untuk pendistribusiannya pun juga diperebutkan. Sumber daya akan menjadi kekuatan sekaligus kelemahannya karena menjadi potensi konflik.
Tatkala kepentingan pendominasian penguasaan atau perolehan sumber daya ini semakin besar, maka akan semakin besar pula potensi konfliknya. Tatkala semakin besar perebutan sumber daya dan pendistribusiannya maka diperlukan energi yang besar, perlu dukungan solidaritas bahkan legitimasinya.
Tatkala dihembuskan issue yang berkaitan dengan primordial, terhadap lawannya, atau kelompok-kelompok yang dibencinya yang dipikirkan dalam kelompoknya hanyalah benar dan salah. Tatkala benar-salah dimasukkan ke dalam ranah keyakinan maka akan ditingkatkan gradenya menjadi suci dengan dosa.
Suci dengan dosa dilebarkan kembali antara surga dengan neraka, malaikat dengan setan yang tidak saling ketemu. Yang benar, suci, golongan malaikan memiliki hak melenyapkan yang salah, dosa, golongan setan. Yang berbeda dengan kelompoknya dianggap salah, jahat, kafir, dosa, teman setan dan layak dinerakakan. Apapun alasannya dibenarkan karena memerangi yang jahat, yang dosa, yang bersekutu dengan setan dilegitimasi bahkan didukung (mendapat solidaritas).
Tatkala sudah memasuki ranah ini sesamanya manusia kadang tidak dilihat sebagai sesamanya manusia. Memanusiakan manusia seutuhnya, dihilangkan dengan kebencian, sehingga sesamanya manusia dianggap layak atau semestinya disingkirkan atau kalau mau tetap ada wajib disadarkan (mengikuti kemauanya (pemaksaan)). Siapa kuat dialah yang menang. Suara banyak
menjadi suara kebenaran. Tatkala benar – salah ini terus menerus dihembuskan dengan bumbu-bumbu kebencian, ini menunggu trigernya untuk meledak.
Unggulan manusia pada otak dan hati nurani tiba-tiba diganti dengan nafsu-nafsu menyerang dan menghancurkan, bahkan bisa juga melakukan pembunuhan (dari pembunuhan secara fisik sampai dengan pembunuhan karakter yang mematikan hidup dan kehidupan sesamanya.
Primordial tatkala disuntikan dalam kebencian maka akal sehat, rasa kemanusiaan sirna, kepuasannya dari memfitnah, mencela, merusak sampai dengan mematikan menjadi spiritnya.[CDL05012017]
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana
