Ilustrasi
TRANSINDONESIA.CO – Tokoh sengkuni dalam pewayangan sebagai simbol sifat licik, hobby membuat gaduh, senang menipu, berbuat curang, pengecut, munafik dan banyak hal buruk yang menjadi tabiatnya.
Sengkuni dalam era modern ini akan selalu menggergaji birokrasi demi kekuasaan, kekayaan tega menjadi penjilat, berkianat, menjdi pecundang, memutar balik fakta, membuli bahkan menjatuhkan harkat dan martabat manusia juga dirinya.
Orang-orang berwatak Sengkuni selalu saja akan menjadi benalu menggergaji dari dalam dan terus saja menabur kebencian, fitnah dan kegaduhan.

Sengkuni sangat lihai bersilat lidah, bermain watak dan jelas-jelas memanfaatkan situasi demi keuntungan dan kesenangan pribadi dan kroni.
Kaum-kaum Sengkuni akan berusaha selalu dekat dengan kekuasaan untuk bisa menghasut para pemegang kekuasaan untuk ikut menguasai sumber-sumber daya dan mengangkanginya.
Sengkuni akan terus menabur kebencian kesana kemari bagi siapa saja yang dianggap musuhnya/ menghalangi/merugikan kepentingan-kepentingannya.
Sengkuni akan tega menikam dari belakang, memotong dalam lipatan, membunuh karakter. Sengkunipun mewakili keberadaan mafia-mafia birokrasi. Mempolitisir, mendiskriminasi, memonopoli, akan menjadi unggulannya.
Gergajian Sngkuni antara lain: 1.Mempertahankan status quo, 2.Mark up anggaran, 3.Memanipulasi, 4.Memonopoli, 5.Membuli dengan berbagai fitnahan, 6.Menipu/menggelapkan, mencuri, 7.Membunuh karakter, 8.Menjilat dengan menabur kebencian, 9.Menjual aset birokrasi kepihak luar, 10.Menyalahgunakan wewenang, dan banyak lagi tabiat-tabiat kontra produkdif yang terus ditumbuh kembangkan.[CDL31082016]
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana






