Njur Nopo
TRANSINDONESIA.CO – Kalimat “Njur Nopo”?, dapat diartikan “untuk apa”?. Kalimat ini singkat jelas dan bermakna dalam. Tatkala dalam hiruk pikuk perebutan sumber daya, kekuasaan, pangkat, jabatan dengan segala cara dilakukan dan dihalalkan, akhir dari semua itu “njur nopo”?.
Tatkala hanya memenuhi ambisi, hasrat berkuasa dan ingn kaya raya dengan cepat maka semua tidak akan bermakna apa-apa. Tentu setelah tercapai apa yang diperebutkanya tidak ada karya dan manfaat bagi sesamanya. Karena otak dan hatinya hanya ingin kekuasaan, uang dan keduniawian semata, tidak akan ada cipta karya dan karsa. Yang ada mungkin hanya kaya harta tetap tidak kaya hati.
“Njur nopo”? merupakan kalimat pertanyaan yang jitu untuk menyadarkan kaum serakah dan tamak yang tidak ada puasnya. Setelah menjabat, naik pangkat dan kaya raya…”Njur nopo”?.

Pertanyaan ini singkat, jelas, padat sekaligus menghibur bagi yang tidak kebagian atau tidak diperhitungkan dalam perebutan kekuasaan. Bukanlah hal aneh dan manusiawi kalau terus saja “mburu bondo” dan tidak ada puasnya.
Namanya juga manusia sebelum ajal tiba keduniawiannya akan terus menggoda dan berusaha menguasai jiwanya. Jiwa manusia tidak ada puasnya dan tidak ada dalam kamusnya kata cukup, berhenti. Hasrat manusia adalah menguasai sebanyak-banyaknya dan tiada habisnya sampai kadang lupa bersyukur atu menikmatinya.
Keduniawian memang melumpuhkan dan membutakan hati nurani, saking semangatnya sampai-sampai tidak lagi ada rasa puas, yang ada kurang, kurang dan kurang.
Ada nasehat spiritual yang dianjurkan untuk meminta, ” hati yang penuh syukur dalam kondisi apapun”. Pertanyaan “njur nopo”?, Membuat kita semeleh, bersyukur dan mawas diri bahwa segala sesuatu ada batasnya dan sebenarnya juga tidak ada apa-apanya.
Yang bisa kita nikmanti hanya secukupnya. Minum es degan saat panas memang segar, kalau minumnya se ember es apa yang terjadi? glegek en, kemlakaren, bahkan muntah-muntah.
“Njur Nopo”?, Menjadi pengingat agar kita untuk tidak serakah dan bisa menikmati serta mensyukuri apa yang ada dan yang kita miliki walau penuh keterbatasan.[CDL-03072016]
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana







