Ilustrasi
TRANSINDONESIA.CO – Celometan, dikonotasilkan sebagai berbicara yang sasar susur dan sebagai sesuatu yang “selo”(santai, terkesan semaunya bahkan jauh dari serius).
Celometan mungkin ibarat angin yang keluar dari perut melalui anus (maaf kentut). Siapapun yang menghirup angin itu akan gibras-gibras ngedumel bahkan bisa misuh-misuh mengeluarkan sebutan dari yang umpatan sampai nama yang berkaki empat.
Tatkala sesuatu upaya mengingatkan, menyadarkan dan menunjukkan perkeliruan yang terjadi dianggap sebagai celometan, bukan hanya umpatan atau hujatan bagi yang mengirup ketut melainkan sudah menyiapkan moncong senjata dan pelurunya untuk mbedhil gundulnya.

Bagi yang marah dan akan mbedhili sebenarnya merekalah pelakunya sebagai thuyul yang kathokan. Thuyul mahkluk gaib yang dipiara untuk mencuri uang selalu telanjang. Tatkala bercelana/kathokan maka ia akan kelihatan dan mudah ditangkap.
Celometan sebenarnya suatu gerundelan yang sudah terlanjur keluar sebagai suatu ngodo roso (refleksi) dan sebagai ungkapan hati yang prihatin dan ingin mengingatkan agar jangan terjerumus semakin dalam.
Sayangnya celometan tidak membuat terharu bahkan dianggap sebagai kutu yang mengganggu. Memang berat kalau sudah tiada hati dan naluri memperbaiki. Semua yang mengkritisi dianggap slilit atau klilib.
Akankah mengeluarkan slilit dengan sangkur? Atau nyebul klilib dengan mbedhil mata? Sepertinya aneh, namun itu bisa saj dilakukan, kalau sudah gelap mata dan merasa tidak ada hati nurani lagi.
Bedhil (senjata api) memang untuk mbedil (menembak), bukan untuk nyrutup dawet. Namun sasaran yang dibedhil itulah yang membedakan si pembedhil waras atau tidak. Bisa saja sang pemegang bedhil marah tatkala nyedot entut sehingga sontak ingin mbedil cangkem yang celometan.
Jika yang celometan itu melalui BBM dan menggunakan jempol maka yang akan dibedhil sebenarnya adalah jempolnya. Tatkala jemolnya nempel jidat ya wes ewes ewes bablas nyawane. Bedhil membedil ini akan menjadi keunggulan bagi yang menang-menangan walau sarat dengan ketololan.[CDL-13062016]
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana







